Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeNewsPeristiwa

Tim SAR Gabungan Berhasil Evakuasi 3 Korban Tewas Akibat Gas Beracun di Tambang Pongkor

×

Tim SAR Gabungan Berhasil Evakuasi 3 Korban Tewas Akibat Gas Beracun di Tambang Pongkor

Sebarkan artikel ini

Nanggung, BogorUpdate.com – Upaya panjang dan penuh risiko yang dilakukan tim SAR gabungan akhirnya membuahkan hasil. Tiga korban yang terjebak di lubang galian emas kawasan tambang PT Aneka Tambang (Antam) UBPE Pongkor, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, berhasil dievakuasi pada Minggu (18/1/26).

Tim SAR gabungan yang terdiri dari PT Antam UBPE Pongkor, BPBD Kabupaten Bogor, TNI, dan Polri bekerja tanpa henti menembus medan berbahaya demi mengevakuasi para korban.

Proses penyelamatan berlangsung dramatis karena kondisi lubang sempit, labil, dan dipenuhi asap gas beracun. Bahkan, satu personel SAR dilaporkan mengalami luka akibat tertimpa runtuhan bebatuan saat evakuasi.

Tiga korban yang berhasil diangkat masing-masing bernama Jaka, warga Kampung Urug Lebak Coet RT 02 RW 03, Edi, warga Kampung Anyar RT 06 RW 02, Desa Urug, serta Isep, warga Kampung Anyar RT 06 RW 02, Desa Urug, Kecamatan Sukajaya.

Ketiganya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah terjebak selama lima hari di dalam lubang tambang.

Usai dievakuasi, jenazah langsung dibawa menggunakan ambulans dinas kesehatan ke rumah duka masing-masing untuk diserahkan kepada keluarga dan dimakamkan pada Minggu dini hari.

Tangis keluarga pecah saat iring-iringan ambulans tiba. Acip, ayah dari Edi, mengaku sangat terpukul atas kepergian putranya yang menjadi tulang punggung keluarga.

“Kami orang tidak mampu. Anak saya meninggalkan dua anak. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, berdasarkan informasi keluarga korban, jumlah korban meninggal dunia akibat dugaan paparan gas beracun di kawasan tambang emas tersebut mencapai enam orang.

Hingga kini, tiga korban lainnya masih terjebak di dalam lubang, yakni Aji, Akim, dan Adam, seluruhnya warga Kampung Anyar, Desa Urug.

Orang tua korban berharap anak-anak mereka segera ditemukan.

“Mau hidup atau mati, yang penting bisa segera pulang. Kami masih menunggu,” ucap salah seorang keluarga dengan suara lirih.

Menurut keterangan Suhanda, insiden bermula saat Isep bersama sepuluh penambang lain masuk ke lubang tambang pada Senin malam, 12 Januari 2026.

Saat kepulan asap beracun muncul, enam orang terjebak di dalam lubang, sementara lima lainnya berhasil menyelamatkan diri dan mendapat perawatan di klinik setempat.

Terpisah, Agustinus Toko Susetio, Java Region CSR & ER Sub Division Head Antam UBPE Pongkor, menegaskan bahwa para korban bukan pekerja resmi perusahaan maupun kontraktornya.

Ia juga menyebut lokasi kejadian berada di area yang seharusnya steril dari aktivitas penambangan.

“Kami sejak awal mengedepankan aspek kemanusiaan dan keselamatan sebagai prioritas utama. Tim gabungan telah melakukan evakuasi secara maksimal meski menghadapi tantangan sangat berat,” ujar Agustinus dalam keterangan tertulis di Polsek Nanggung, Senin (19/01/2026).

Ia menjelaskan, medan evakuasi sangat berisiko karena berada di area sempit dan rawan longsor.

Beberapa petugas bahkan sempat tertimpa runtuhan batu. Selain itu, akses menuju lubang tertutup tembok pengaman yang dibangun untuk mencegah aktivitas tambang ilegal.

“Seluruh korban yang berhasil dievakuasi telah diserahkan kepada pihak kepolisian untuk penanganan lebih lanjut. Sementara penyebab munculnya asap beracun masih dalam proses investigasi bersama aparat berwenang,” jelasnya.

Peristiwa ini kembali menyoroti maraknya praktik tambang emas ilegal di kawasan Pongkor. Meski perusahaan telah membangun tembok pembatas dan melakukan pengamanan, aktivitas penambangan liar masih terus terjadi.

Minimnya pengawasan di lapangan serta lemahnya penegakan hukum membuat sebagian warga nekat mempertaruhkan nyawa demi bertahan hidup, meski bahaya gas beracun di lubang-lubang tambang tua telah berulang kali diperingatkan.

Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian terhadap korban yang masih terjebak terus dilakukan. (Gus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *