Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeKesehatanNews

Jangan Langsung Makan Gorengan Saat Berbuka Puasa, dokter Karina Rahmadia Ungkap Dampaknya bagi Kesehatan

×

Jangan Langsung Makan Gorengan Saat Berbuka Puasa, dokter Karina Rahmadia Ungkap Dampaknya bagi Kesehatan

Sebarkan artikel ini

Ilustrasi gorengan. (Pixabay)

Kesehatan, BogorUpdate.com – Gorengan menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia, termasuk saat berbuka puasa. Namun, kebiasaan mengonsumsi gorengan ketika perut kosong setelah berpuasa seharian ternyata tidak dianjurkan dan sebaiknya dihindari karena berisiko mengganggu kesehatan pencernaan.

Dosen Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr dr Karina Rahmadia Ekawidyani, MGizi, menjelaskan bahwa gorengan mengandung lemak jenuh dan lemak trans yang tinggi akibat proses penggorengan.

“Sebenarnya tidak dianjurkan untuk berbuka puasa dengan gorengan,” ujar dr Karina melansir laman IPB, Sabtu (21/2/26).

Ia menjelaskan, lemak merupakan zat gizi yang lebih sulit dicerna dibandingkan karbohidrat. “Gorengan ini kan digoreng berarti tinggi lemak. Nah, lemak itu termasuk sulit dicerna. Proses mencernanya dibandingkan dengan mencerna karbohidrat itu lebih lama,” katanya.

Menurut Dr Karina, setelah berpuasa seharian, sistem pencernaan berada dalam kondisi istirahat cukup lama. Jika langsung menerima makanan tinggi lemak, sistem pencernaan harus bekerja lebih berat.

“Takutnya nanti ada gangguan di sistem pencernaan. Paling tidak mungkin sakit perut, mual, mules,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa konsumsi gorengan saat perut kosong dapat memicu peningkatan asam lambung, terutama pada orang yang memiliki riwayat gangguan lambung.

“Bayangin ya, perut yang kosong, asam lambungnya meningkat. Kalau orang yang punya asam lambung itu pasti perih banget rasanya,” jelasnya.

Meski demikian, Dr Karina menegaskan bahwa gorengan tidak sepenuhnya dilarang saat berbuka puasa. “Makan gorengan saat berbuka puasa itu boleh, tapi dengan catatan, diberi jeda waktu dan tidak berlebihan,” katanya.

Ia menyarankan agar gorengan dikonsumsi setelah perut diisi terlebih dahulu dengan makanan ringan atau makanan utama.

Selain itu, jumlah gorengan juga perlu dibatasi. Konsumsi lemak berlebih secara terus-menerus berisiko menumpuk dalam tubuh dan dapat memicu obesitas.

“Kalau makanan gorengan tinggi lemak itu juga bisa berisiko kalau kita makan dalam jumlah yang banyak dan tidak bisa dikontrol setiap hari,” ujarnya.

Dr Karina mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengontrol konsumsi gorengan saat berbuka puasa, tetapi juga dalam keseharian. Menurutnya, kebiasaan makan yang lebih sehat akan berdampak positif bagi kualitas kesehatan di masa mendatang. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *