Kota Bogor, BogorUpdate.com – Program promo sewa kios senilai Rp 1 juta selama tiga bulan yang digulirkan pengelola Pasar Jambu Dua mendapat respons luar biasa dari para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Seluruh tenant kuliner di lantai dua kini telah habis terisi, bahkan ratusan pelaku usaha lainnya harus masuk dalam daftar tunggu (waiting list).
Direktur Utama PT Bogor Artha Makmur (BAM), MH. Ages, mengatakan program tersebut merupakan bentuk dukungan perusahaan untuk mempermudah UMKM mengembangkan usahanya sekaligus mempercepat tingkat okupansi Pasar Jambu Dua sebagai pusat perdagangan dan kuliner modern di Kota Bogor.
“Selama tiga bulan pelaku UMKM cukup membayar Rp1 juta per kios atau los. Ini merupakan program keringanan yang kami berikan. Setelah masa uji coba tiga bulan, apabila para pedagang masih membutuhkan perpanjangan, tentu akan kami evaluasi dan pertimbangkan kembali,” ujar Ages kepada Bogorupdate, Senin (29/6/2026).
Ia menjelaskan, Pasar Jambu Dua memiliki 1.141 kios dan los. Sekitar 600 unit di lantai dua diproyeksikan menjadi kawasan kuliner modern, sedangkan lantai dasar tetap diperuntukkan bagi aktivitas perdagangan tradisional dan menampung sekitar 300 pedagang kaki lima (PKL).
Menurut Ages, konsep kuliner yang dikembangkan mendapat sambutan sangat positif. Seluruh tenant yang dipasarkan telah terisi penuh dan saat ini terdapat sekitar 200 pelaku UMKM yang masuk daftar tunggu.
“Saat ini tenant kuliner sudah sold out. Bahkan masih ada waiting list sekitar 200 pendaftar. Jika dalam waktu satu minggu masih ada kios yang belum ditempati, akan kami berikan kepada peserta yang ada dalam daftar tunggu,” katanya.
Ia mengungkapkan, sekitar 90 persen tenant yang bergabung merupakan pelaku UMKM. Hal itu sejalan dengan komitmen PT BAM untuk memberikan ruang seluas-luasnya bagi usaha kecil agar dapat berkembang dan naik kelas.
Keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari strategi promosi yang dilakukan melalui media sosial, media massa, serta kolaborasi dengan para influencer untuk memperkenalkan wajah baru Pasar Jambu Dua kepada masyarakat.
“Promosi melalui influencer dan media sangat membantu meningkatkan kunjungan masyarakat. Dalam waktu sekitar satu bulan hasilnya sangat luar biasa hingga tenant kuliner habis terisi,” ungkapnya.
Ages menilai kehadiran kawasan kuliner di lantai dua juga membawa dampak positif terhadap aktivitas perdagangan di lantai dasar. Pengunjung yang datang untuk menikmati kuliner umumnya turut berbelanja kebutuhan pokok seperti sayuran, telur, daging, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
“Jadi pedagang di bawah juga ikut diuntungkan karena pengunjung tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga berbelanja,” jelasnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pedagang pasar tradisional, PT BAM juga menggratiskan biaya sewa selama tiga bulan bagi pedagang sayur-mayur yang berjualan di lantai dasar.
“Saat ini pedagang sayur di bawah masih kami gratiskan selama tiga bulan. Alhamdulillah kondisinya juga sudah ramai,” tambah Ages.
Terkait desain tenant, Ages menegaskan pihaknya memberikan kebebasan kepada setiap pelaku usaha untuk menata kios sesuai karakter usahanya masing-masing, selama tidak mengganggu tenant lain.
Ia juga membantah anggapan bahwa konsep Pasar Jambu Dua meniru kawasan kuliner Blok M di Jakarta. Menurutnya, kreativitas desain lahir dari para pedagang sendiri.
“Kami tidak mengadopsi konsep dari mana pun. Para pedagang sendiri yang mendesain tenantnya sesuai kreativitas masing-masing. Julukan ‘Santanya Bogor’ muncul dari komunitas pedagang sendiri, bukan dari kami,” tegasnya.
Dengan konsep yang memadukan pusat kuliner modern, ruang kreatif bagi UMKM, serta perdagangan tradisional dalam satu kawasan, Pasar Jambu Dua diharapkan menjadi destinasi ekonomi baru sekaligus salah satu pusat kuliner terbesar di Kota Bogor. (Abizar)











