Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeNews

Jenal Mutaqin Ajak PKL dan UMKM Isi Kios Kosong Pasar Jambu Dua, Lantai Dua Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Kuliner

×

Jenal Mutaqin Ajak PKL dan UMKM Isi Kios Kosong Pasar Jambu Dua, Lantai Dua Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Kuliner

Sebarkan artikel ini

Kota Bogor, BogorUpdate.com – Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengajak para pedagang kaki lima (PKL) serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memanfaatkan ratusan kios dan los yang masih tersedia di Pasar Jambu Dua.

Pemerintah Kota Bogor menilai pasar tersebut memiliki potensi besar menjadi pusat perdagangan sekaligus destinasi wisata kuliner baru di Kota Hujan.

Ajakan itu disampaikan Jenal saat meninjau langsung kondisi Pasar Jambu Dua, Kamis (2/7/2026). Dalam kunjungannya, ia mendapati masih ada sekitar 300 los di lantai dasar yang belum ditempati pedagang.

Menurut Jenal, berbagai kemudahan telah disiapkan oleh Perumda Pasar Pakuan Jaya bersama pihak ketiga untuk menarik minat pedagang. Selain harga sewa yang terjangkau, calon penyewa juga mendapatkan fasilitas bebas biaya sewa selama tiga bulan pertama.

“Masih banyak kios dan los yang belum terisi, terutama di lantai satu, hampir 300 los masih kosong. Padahal pemerintah melalui PD Pasar dan pihak ketiga sudah memberikan ruang dengan harga yang sangat terjangkau, bahkan tiga bulan pertama gratis. Ini kesempatan bagi para PKL yang ingin berjualan secara resmi tanpa mengganggu ketertiban umum,” ujar Jenal.

Ia menegaskan, Pasar Jambu Dua memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk mendukung aktivitas perdagangan. Selain sebagai pusat kebutuhan pokok masyarakat, lantai dua pasar kini tengah dipersiapkan menjadi kawasan wisata kuliner yang diharapkan mampu meningkatkan jumlah pengunjung sekaligus membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM.

Jenal menjelaskan, konsep pengembangan lantai dua berubah setelah dilakukan evaluasi bersama investor. Rencana awal menjadikan kawasan tersebut sebagai area perdagangan sayur, buah, dan sembako akhirnya dialihkan menjadi sentra kuliner agar lebih menarik bagi masyarakat sekaligus memberikan nilai tambah terhadap investasi yang telah dilakukan.

“Alhamdulillah, setelah berubah menjadi konsep kuliner dan dipromosikan melalui media sosial, respons masyarakat sangat baik. Seluruh tenan kuliner sudah ter-booking, baik oleh pelaku usaha dari Kota Bogor maupun luar daerah,” katanya.

Menurutnya, kawasan kuliner tersebut dirancang sebagai ruang publik yang nyaman bagi seluruh kalangan, mulai dari keluarga, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas hingga wisatawan yang ingin menikmati ragam kuliner khas Bogor.

Meski demikian, ia mengingatkan masih ada sejumlah fasilitas pendukung yang perlu segera dilengkapi. Di antaranya pemasangan blower atau kipas industri, penyediaan meja dan kursi makan, tempat sampah, hingga pembangunan area khusus merokok yang terpisah dari zona bebas asap rokok.

“Kalau nanti pengunjung semakin ramai, tentu fasilitas juga harus ditingkatkan supaya nyaman. Blower, meja, kursi, tempat sampah, semuanya sedang dipersiapkan oleh pihak ketiga. Saya juga minta dibuatkan ruang khusus merokok agar keluarga yang membawa anak-anak tidak terganggu asap rokok,” jelasnya.

Jenal juga menyoroti sejumlah kios yang sebenarnya sudah dipesan dan dibayar, namun hingga kini belum dimanfaatkan oleh penyewanya. Ia meminta pengelola segera melakukan evaluasi dengan memberikan batas waktu yang jelas agar kios yang tidak digunakan dapat dialihkan kepada pedagang lain yang benar-benar siap membuka usaha.

“Sebagian kios memang sudah ter-booking dan sudah dibayar, tetapi belum diisi. Saya minta pengelola segera memberikan tenggat waktu. Kalau tidak segera ditempati, bisa dievaluasi agar kesempatan diberikan kepada pedagang lain yang benar-benar siap membuka usahanya,” tegasnya.

Ke depan, Pemerintah Kota Bogor berharap Pasar Jambu Dua dapat menjadi contoh wajah baru pasar tradisional yang lebih bersih, tertata, nyaman, dan mampu menghapus stigma pasar yang kumuh. Pemkot juga akan melibatkan organisasi pengusaha, komunitas kuliner, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat kawasan tersebut sebagai salah satu destinasi wisata kuliner unggulan di Kota Bogor.

Sementara itu, terkait kemungkinan penerapan konsep serupa di Pasar Gembrong, Jenal menegaskan setiap pasar memiliki karakteristik yang berbeda. Pasar Gembrong tetap akan difokuskan sebagai pusat perdagangan sayur, buah, dan kebutuhan pokok masyarakat, dengan tambahan area food court dalam skala yang disesuaikan.

“Kalau pusat kuliner memang lebih kami fokuskan di Pasar Jambu Dua. Sedangkan Pasar Gembrong tetap mengedepankan fungsi utamanya sebagai pasar tradisional, dengan tambahan food court sesuai kebutuhan,” pungkasnya. (Abizar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *