Cibinong, BogorUpdate.com – Kawasan Malasari di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor kembali menjadi perhatian sebagai wilayah yang memiliki nilai sejarah sekaligus kekayaan alam yang besar. Berbagai pihak terus mendorong upaya pelestarian lingkungan dan penguatan peran kawasan tersebut bagi masyarakat.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menegaskan bahwa Malasari harus menjadi simbol kebangkitan daerah dan tidak tertinggal dalam pembangunan.
“Jangan sampai titik awal Bogor berdiri justru menjadi titik paling belakang dalam perkembangan Kabupaten Bogor,” ujar Rudy.
Ia menilai, potensi sumber daya alam yang dimiliki Malasari harus diimbangi dengan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat agar memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Upaya tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta yang turut berkontribusi melalui kegiatan pelestarian lingkungan. Salah satunya dengan penyerahan bibit pohon endemik dan tanaman keras untuk ditanam di kawasan hutan Malasari.
Laboratory Manager PPLI, Muhammad Yusuf Firdaus, menegaskan bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
“Kita ini hanya meminjam warisan alam dari generasi yang akan datang. Karena itu kita memiliki kewajiban menjaga dan mengembalikannya dalam kondisi yang baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan rehabilitasi lingkungan tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari keberhasilan dalam merawatnya.
“Kami berharap pohon-pohon yang ditanam tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar dirawat sehingga memberikan manfaat bagi lingkungan,” tambahnya.
Sementara itu, akademisi sekaligus pemerhati lingkungan, Associate Professor Dr. Yayan Sudrajat, menilai bahwa pelestarian hutan harus dilakukan secara terukur dan berkelanjutan.
“Saya kira yang penting adalah mendata berapa banyak mata air yang masih berfungsi dan berapa yang sudah beralih fungsi. Itu menjadi dasar dalam menyusun langkah konservasi ke depan,” jelasnya.
Ia juga mendorong masyarakat untuk mulai memperkuat ketahanan lingkungan dari lingkup rumah tangga, salah satunya melalui pemanfaatan tanaman obat keluarga.
Di sisi lain, nilai historis Malasari juga menjadi perhatian. Keturunan generasi keempat Kepala Desa Malasari pertama, Usep Malasari, mengungkapkan bahwa wilayah tersebut pernah menjadi pusat pemerintahan darurat pada masa perjuangan kemerdekaan.
“Dulu saat Agresi Militer II tahun 1948, Pak Ipik Gandamana memutuskan Malasari sebagai tempat yang paling aman untuk menjalankan pemerintahan,” ungkap Usep.
Ia menegaskan, menjaga warisan sejarah bukan hanya tanggung jawab pribadi, tetapi juga bagian dari identitas daerah yang harus dilestarikan bersama.
“Alam ini harus dijaga agar sejarah Kabupaten Bogor tetap bisa dinikmati generasi sekarang maupun yang akan datang,” katanya.











