
BogorUpdate.com – Alumni Institut ilmu sosial dan ilmu politik (IISIP) menggelar diskusi publik dengan tema “Peran Tokoh agama dan media massa dalam mengawasi dan menangkal kampanye negatif dan isu sara”. Bertempat di cafe Up2Date, Jalan Raya Tegar Beriman, Pemda kabupaten Bogor, Jumat (31/8/18).
Hadir dalam diskusi, ketua sekretariat bersama (Sekber) wartawan Bogor, H.RM Danang Donoroso. S.Ip; ketua majelis ulama Indonesia (MUI) kabupaten Bogor, KH.Mukri Aji; ketua forum kerukunan umat beragama (FKUB) Dudung Nurzaman; kepala seksi pembinaan politik dan hubungan antar lembaga (binpolhal), Sujana Azhari. Serta dihadiri puluhan wartawan yang meliput di kota/kabupaten Bogor.
Dalam diskusi ini, H.RM Danang Donoroso, mengatakan bahwa tugas Pers adalah independen tidak berpihak kemanapun dalam menulis maupun melaksanakan tugasnya. Apalagi menjelang pilpres dan Pileg pasti akan muncul kampanye negatif dan penyebaran isu sara.
” Ada tiga tugas pokok seorang jurnalis, yaitu bersifat pendidikan, bersifat kontrol sosial dan bersifat advetorial. Jurnalis harus menulis sesuai dengan tugas pokoknya yang sesuai Dengan undang-undang Pers Nomor 40 tahun 1999. Apalagi saat ini dengan bebasnya media sosial muncul, kita harus tau kode etik jangan karena tidak suka lantas Seenaknya menulis karena berpihak ke salah satu kandidat. Media harus menyebarluaskan berita positif sesuai fakta bukan hal negatif. Jadi, hindari segala bentuk kampanye hitam,” terang Mas Dono, sapaan akrabnya.
Terpisah, ketua MUI, KH Mukri Aji memberikan pandangan secara agama terkait bahayanya black Champaign. Menurutnya, medsos sudah tidak bisa di elak kehadirannya. Namun katanya, semua itu harus ada klarifikasi jika tidak benar apa yang menjadi isi muatan informasi nya.
” Diskusi publik ini sangat baik karena baru sekarang hadir menjelang pilpres dan pileg. Masalah kampanye hitam memang pasti muncul, tapi hal itu adalah sebagian dari ujian kepada kita. Apapun yang kita lakukan pasti nantinya akan mendapatkan hukuman yang setimpal pada penghakiman akhir kita nanti. Jadi, soal kampanye hitam dan isu sara harus kita kembalikan pada diri kita masing-masing menyikapi dan menjalaninya. Dan kami sebagai tokoh agama tidak boleh ikut menyebarkan berita yang tidak tau kebenarannya,” Pungkasnya.
Senada, kepala seksi Binpohlal, Sujana Azhari, meminta agar media massa memberitakan hal positif. ” Media harus memberikan informasi yang positif kepada masyarakat khususnya jelang pilpres. Jangan beritakan sesuatu hal yang membuat masyarakat jadi gaduh dan terpecah belah. Mari kita ajarkan masyarakat untuk terhindar dari berita Hoax,” Tegasnya. (Eft)
Editor : Tobing







