Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomePemerintahan

Usmar: Dishub Jalankan Kebijakan Yang Terbalik dan Salah

×

Usmar: Dishub Jalankan Kebijakan Yang Terbalik dan Salah

Sebarkan artikel ini

foto Usmar Hariman, Wakil Walikota Bogor

 

BogorUpdate.com – Program perdana konversi angkutan kota (angkot) 3 menjadi 2 angkot yang merupakan kebijakan Dinas Perhubungan (Dishub) terus menjadi sorotan. Hal itu tak luput dari perhatian Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman.

 

Menurut Usmar, konversi 3 menjadi 2 merupakan program salah konsep dan tidak sesuai dengan perencanaan awal. Karena konversi angkot yang digadang gadang akan menyelesaikan persoalan angkutan di Kota Bogor yang dikenal sebagai kota sejuta angkot adalah tiga angkot menjadi satu bus.

 

“Kebijakan yang dilakukan Dishub saat ini tidak tepat sasaran dan terkesan memaksakan konversi tanpa persiapan matang,” kata Usmar, Rabu (28/11/18).

 

Usmar melanjutlan, kembali kepada skenario besar kaitan dengan koversi 3 banding 1 yang harus di utamakan, dan kebijakan apapun pemerintah harus mendorong pihak pihak yang terlibat dalam penyediaan angkutan dalam kota dengan mengganti angkot menjadi bus sedang.

 

Hal itu bukan tanpa alasan, tetapi kata dia, karena jalurnya sendiri sudah disiapkan, tapi sayang hingga saat tidak kunjung direalisasikan. Selain itu untuk persyaratan konversi 3 banding 1 menjadi bus sedang juga lebih memenuhi tinggal pemerintah menantang para pengusaha pengusaha angkot agar memprioritaskan konversi 3 banding 1 dulu.

 

Namun akhir-akhir ini yang di prioritaskan adalah 3 banding 2, padahal secara infrastuktur lebih siap 3 banding 1 daripada 3 banding 2. Selain sejumlah kolidor untuk bus sedang siap, jalur bus juga sudah dibuat diseluruh ruas jalan di Kota Bogor.

 

“Konversi 3 banding 2 itu sangat mudah tetapi pemerintah tetap harus memprioritaskan skema 3 banding 1 dulu, karena secara kesiapan sudah matang dan tinggal jalan. Jadi kebijakan utama konversi 3 banding 1 itu bukan kebijakan angkot diganti angkot kembali, tapi angkot jadi bus sedang,” tegasnya.

 

Kalau sudah konversi 3 banding 1 maka angkot sudah jelas berkurang, setelah itu baru dilanjut 3 banding 2 untuk mengurangi lagi angkot lagi dengan konsep bisa menggunakan angkot lagi tapi kendaraan itu mesin cc nya harus besar melebihi angkot yang ada sekarang.

 

“Harusnya pengusaha angkot ditantang untuk mau mengkonversi angkot dengan skema 3 banding 1, kalau itu masuk kedalam sistem operator Trans Pakuan, maka akan hidup,” tegas Usmar.

 

Selain itu kata dia, juga ada keunggulan yang membuat program itu berhasil, karena skema 3 banding 1 itu bisa mendapat subsidi dari Pemkot Bogor, sedangkan kalau angkot modern tidak bisa mendapat subsidi.

 

Politisi Gerindra itu menambahkan, karena Dishub sudah menjalankan kebijakan yang terbalik dan salah, maka harus berani memutar balik kembali menjalankan konsep awal, supaya penataan transportasi berjalan sesuai perencanaannya.

 

“Harus berani menjalankan konversi angkot menjadi bus sedang. Kalau bus sedang sudah jalan, maka akan mendorong berjalannya bus Trans Pakuan, karena koridornya sudah ada dan siap tinggal jalan saja,” pungkas Usmar. (As)

 

 

 

 

 

 

Editor : Tobing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *