Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeNews

Kerap Terjadi Pemborosan Pangan, KRKP Ajak Masyarakat Bangun Pasar Hijau Kota Bogor

×

Kerap Terjadi Pemborosan Pangan, KRKP Ajak Masyarakat Bangun Pasar Hijau Kota Bogor

Sebarkan artikel ini
KRKP saat menggelar kegiatan Rame-Rame Pasar Hijau Kota Bogor. (Dok KRKP)

Kota Bogor, BogorUpdate.com – Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) mengajak masyarakat hingga Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor membangun adanya Pasar Hijau Kota Bogor.

Ajakan tersebut dilakukan KRKP dengan menggelar kegiatan ‘Rame-Rame Pasar Hijau Kota Bogor’ di Dieu Geura Arts and Community Space, Kota Bogor, pada Sabtu, (26/9/2026).

Project Manager Pangan Kota Kita KRKP, Wahyu Ridwan Nanta mengatakan bahwa kegiatan tersebut digelar untuk menjawab persoalan pangan yang kerap menjadi pemborosan di wilayah Kota Hujan.

Berdasarkan riset KRKP pada 2026, sisa pangan di Kota Bogor mencapai 82,71 ton per hari dari rumah tangga, 10,12 ton per hari dari cafe, 10,37 ton per hari dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah, 5,57 ton per hari dari hotel, dan 5,39 ton per hari dari restoran.

“Persoalan pangan di Kota Bogor tidak bisa diselesaikan dengan hanya satu pihak atau satu sektor saja, kita butuh ruang kolaborasi yang mempertemukan pengetahuan, kebijakan, pelaku usaha, dan konsumen,” ujar Wahyu dalam keterangannya, Senin, (28/9/2026).

“Maka, semangatnya adalah harus rame-rame yang mana kita harus bekerja bersama untuk membangun sistem pangan Kota Bogor yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” sambungnya.

Wahyu menyebut, mengatasi persoalan pangan dapat dimulai dari lingkungan keluarga atau rumah tangga, dan dapat dilakukan secara kolektif oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Salah satu gerakan kolektif yang didorong oleh Pemkot Bogor adalah ASINAN BOGOR, yaitu gerakan aksi sadar kurangi pangan berlebih di Kota Bogor,” ucapnya.

Sementara itu, Dosen Sekolah Vokasi IPB University, Widya Hasian Situmeang menuturkan bahwa sebagian besar pasokan pangan berasal dari luar wilayah Kota Bogor, sedangkan ruang atau lahan produksi pangan di Kota Bogor terus terjadi alih fungsi lahan.

“Kota Bogor hanya memiliki daya beli, dan tidak memiliki daya untuk memproduksi pangan,” tutur Widya.

Di sisi lain, masih kata dia, pemborosan pangan juga menjadi tantangan penting bagi perempuan.

“Perempuan menjadi food keeper yang bertugas memilih jenis pangan, mengatur menu, membeli pangan, menyiapkan makanan di piring keluarga, hingga menangani sisa limbah pangan. Hal tersebut menjadikan perempuan memiliki beban ganda atau triple dalam kehidupan sehari-harinya,” katanya.

Adapun, dalam kegiatan tersebut menghadirkan talkshow radio yang bertajuk ‘Aksi Kita Sapa Bumi: Rame-Rame Pasar Hijau Kota Bogor’ dalam dua sesi tentang pangan yang merupakan kolaborasi KRKP dengan radio Pro 2 FM RRI Bogor.

Lebih lanjut, KRKP berharap melalui kegiatan tersebut bisa memperkuat jejaring antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, hingga konsumen dalam memperluas akses pasar bagi usaha yang sedang bertransisi menuju bisnis hijau.

Selain itu, diharapkan juga peluang kemitraan untuk mendorong praktik pangan yang berkelanjutan, mendapatkan ruang untuk dikenal luas karena setiap pihak memiliki peran dalam menentukan cara pangan diproduksi, didistribusikan, dikonsumsi, dan pengelolaan sisa pangan yang bijak. (Erwin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *