Cisarua, BogorUpdate.com – Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor menerima bantuan mobil dari Pusat Gadai Indonesia sebagai bagian dari kolaborasi program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) untuk mendukung konservasi Harimau Sumatra.
Serah terima bantuan tersebut digelar di Taman Safari Indonesia Bogor, Rabu (7/10/2026), dengan mengusung tema “Menjaga yang Berharga, Lindungi Harimau Sumatra.”
Mobil yang diserahkan berupa jenis SUV (Sport Utility Vehicle). Kendaraan tersebut memiliki desain khusus dengan tampilan foto Harimau Sumatra sebagai simbol dukungan terhadap upaya pelestarian satwa endemik Indonesia yang kini terancam punah.
Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Operasional Taman Safari Indonesia, Esther Manansang, CEO Pusat Gadai Indonesia Andrew Susanto, Founder dan Owner Pusat Gadai Indonesia Hendro Susanto, serta jajaran terkait.
Setelah prosesi serah terima secara simbolis, rombongan kemudian diajak mengunjungi area konservasi Harimau Sumatra di Taman Safari Indonesia Bogor.
CEO Pusat Gadai Indonesia, Andrew Susanto, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kolaborasi CSR untuk mendukung kegiatan konservasi Harimau Sumatra yang dilakukan Taman Safari Indonesia.
“Kita serah terima mobil dari Pusat Gadai Indonesia ke Taman Safari, kita kolaborasi untuk CSR-nya untuk konservasi Harimau Sumatra,” kata Andrew kepada wartawan, Rabu.
Menurut Andrew, dukungan terhadap konservasi Harimau Sumatra penting dilakukan karena keberadaan satwa tersebut di alam semakin terancam.
Ia mengaku kagum dengan upaya Taman Safari Indonesia dalam menjaga dan mengembangbiakkan Harimau Sumatra melalui program konservasi.
“Saya sangat kagum dengan Taman Safari bisa mengkonservasi Harimau Sumatra. Jadi saya enggak mau anak kita, atau cucu kita nanti enggak bisa lihat Harimau Sumatra,” ujarnya.
Selain bantuan kendaraan, Pusat Gadai Indonesia juga memberikan dukungan berupa dana untuk kebutuhan kegiatan konservasi.
Andrew menyebut dukungan tersebut diberikan melalui Yayasan Taman Safari Indonesia. Ia juga membuka peluang untuk mendukung konservasi satwa lainnya di kemudian hari.
“Kita akan lihat lagi apa yang bisa dikonservasi karena kebetulan saya pecinta satwa, jadi berharap konservasi semua hewan itu bisa berjalan dengan mulus,” katanya.
Ia pun mengajak para pelaku usaha lainnya untuk ikut mengambil bagian dalam upaya pelestarian satwa.
“Saya mengajak juga ke pengusaha-pengusaha lain yang memang tergerak hatinya untuk konservasi hewan bisa ke Yayasan Taman Safari Indonesia,” ungkap Andrew.
TSI Miliki 22 Harimau Sumatra
Dokter hewan senior Taman Safari Indonesia, drh. Bongot Suaso Huaso Mulia, mengatakan dukungan dari Pusat Gadai Indonesia akan membantu kegiatan operasional konservasi yang dilakukan TSI.
Menurutnya, kegiatan konservasi tidak hanya berkaitan dengan perawatan satwa, tetapi juga mencakup pemberian pakan, program reproduksi hingga penelitian.
“Dukungan konservasi dari Pusat Gadai ini ya tentu sifatnya kita bilang mendukung kegiatan operasional konservasi di Taman Safari,” kata Bongot.
“Jadi on the daily basis kita ada seperti pemberian makan, ada kegiatan reproduksi, ada kegiatan untuk riset, dan sebagainya,” lanjutnya.
Bongot menjelaskan, Taman Safari Indonesia telah berhasil mengembangbiakkan Harimau Sumatra sejak 1995. Hingga kini, tercatat sekitar 25 anak Harimau Sumatra telah lahir melalui program konservasi tersebut.
Untuk Taman Safari Indonesia Bogor, saat ini terdapat 16 ekor Harimau Sumatra. Sementara jika dihitung di seluruh unit Taman Safari Indonesia, jumlahnya mencapai 22 ekor.
“Keberhasilan Harimau Sumatra kurang lebih sudah ada 25 ekor anakan sejak tahun 1995. Yang termuda di TSI baru lahir enam bulan lalu, empat ekor di TSI Prigen. Kalau di TSI Bogor totalnya ada 16 ekor, kalau keseluruhan ada 22 Harimau Sumatra di Taman Safari Indonesia,” jelasnya.
Namun, upaya pengembangbiakan Harimau Sumatra bukan tanpa tantangan. Bongot mengatakan tingkat reproduksi satwa tersebut relatif rendah dan proses perkawinannya dipengaruhi berbagai faktor.
“Pertama, fertility-nya rendah. Jadi mereka punya kesulitan dalam mereproduksi secara alami. Mereka memiliki tingkat reproduksi yang lebih sulit, kemudian mereka pemilih juga antara jantan dan betinanya. Jadi banyak faktornya,” ungkap Bongot.
Ia menyebut populasi Harimau Sumatra di dunia saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 400 ekor. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa satwa endemik Indonesia tersebut berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
“Perkiraan ada 400 ekor, hanya tinggal segitu,” katanya.
Bongot menegaskan jumlah tersebut sudah berada pada kondisi kritis sehingga upaya konservasi dan pengembangbiakan perlu terus dilakukan secara berkelanjutan.
“Ya, garis merah,” ujarnya.
Dukungan dari sektor swasta, kata Bongot, menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keberlangsungan program konservasi, termasuk memenuhi kebutuhan operasional harian, reproduksi dan riset.
Dengan adanya kolaborasi antara dunia usaha dan lembaga konservasi, Taman Safari Indonesia berharap upaya menjaga populasi Harimau Sumatra dapat terus berjalan dan keberadaan satwa tersebut tetap dapat dinikmati generasi mendatang. (Abizar)





