Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaPemerintahanPeristiwa

Jembatan Gantung di Desa Bantar Karet Nanggung, Mengkhawatirkan

×

Jembatan Gantung di Desa Bantar Karet Nanggung, Mengkhawatirkan

Sebarkan artikel ini

Nanggung, BogorUpdate.com
Beberapa bangunan di Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung yang berada di kawasan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Aneka Tambang Tbk (Antam) Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor yang kini kondisinya sudah lapuk dan dan rusak akibat termakan usia.

Kasie Ekbang Desa Bantar Karet Muhamad Yusuf, membenarkan di beberapa titik bangunan jembatan gantung di Bantar Karet yang kondisinya sudah mengkhwatirkan.

Dari empat Jembatan gantung yang sudah mengalami kerusakan tiga diantaranya jembatan Tugu, Bitung dan jembatan Muara Budin. “Ketiga jembatan diatas bentangan kali Cikaniki yang menghubungkan antara Desa Bantarkaret dengan Desa Cisarua keadaanya sudah berkarat dan kayu-kayunya sudah rapuh,” kata M.Yusuf, Selasa (1/9/20).

Menurutnya, besi sebagai penyangga untuk kekuatan pada hamparan jembatan tersebut terlihat sudah banyak yang lepas. “Hal ini kurangnya kepekaan pihak perusahaan PT Antam, hingga kini belum dilakukan pembangunan,” sebutnya.

Sedangkan untuk jembatan gantung yang terletak di Kampung Jatake merupakan jalur alternatif warga di dua desa, yakni warga Desa Bantarkaret dengan Desa Curugbitung porak poranda akibat tergerus luapan kali Cikaniki yang terjadi pada januari lalu. “Tadinya warga mau swadaya, Namun terbentur biaya, dari pemerintah juga belum ada kejelasan kapan jembatan Jatake bisa dibangun,” sebut anggota BPD Desa Bantarkaret Yudi Mulyono.

Masih kata Yudi Mulyono, jembatan Jatake sepanjang 65 meter lebar 1 meter yang tergerus air sangat di butuhkan warga kedua kampung. “Waktu itu dari provinsi melakukan survey, namun hingga kini tidak ada kabar beritanya lagi,” keluh Yudi.

Sementara, warga Jatake RT 02 RW 04, Desa Bantarkaret Dadang Sopandi (45) mengatakan, Jembatan gantung Jatake penghubung ke kampung babakan, Desa Curugbitung di terjang banjir dan longsor, mengakibatkan jembatan akses yang sangat vital itu terputus.

“Kondisi jembatan ini sudah tidak layak, tapi masih bisa di gunakan. Ini akses yang sangat Urgen, yang merupakan akses penting bagi masyarakat. Terutama untuk para petani yang kebanyakan ladangnya di sebrang kali,” ujarnya.

Kendati begitu, kata Dadang, untuk mempersingkat merupakan jalur alternatif ke dua kampung, terpaksa warga sekitar ada saja yang melintas ke kampung tetangga dengan cara menyebrang.

Dadang menerangkan, sejak ia berusia anak-anak jembatan tersebut memang sudah ada dan pertama di bangun sekira tahun 1992. “Kalau dulu jembatan itu biasa digunakam untuk anak-anak sekolah, sekarang mah sangat banyak digunakan warga petani,” terang Dadang.

Karena sangat urgen, Dadang berharap jembatan tersebut harus di bangun entah itu dari Pemerintah maupun dari perusahaan PT. Antam. “Tolong bantuannya dari CSR PT Antam dan untuk ditinjau serta di lihat kelokasi tersebut,” pintanya.

Hal serupa dikatakan warga sekitar, Hj Dedeh, jembatan gantung Tugu awal dibangun sekira tahun 80an oleh pihak PT Antam, Namun kondisi sekarang sangat mengkhawatirkan. “Waktu itu untuk perbaikannya warga mengajukan ke perusahaan PT. Antam dan dibantu berupa material sedangkan pengerjaannya masyarakat itu sendiri,” ringkasnya.

Humas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor, Agus Setiyono ketika di konfirmasi belum bisa memberikan keterangan hingga berita ini ditayangkan.

 

 

 

 

(Gus/Bing)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *