Bogor, BogorUpdate.com, Jumlah penduduk yang tinggal di bantaran sungai atau daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung mencapai 3,5 juta jiwa. Hal itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, belum lama ini.
Menurut Hanif, jumlah tersebut tergolong cukup besar mengingat luasan DAS Ciliwung yang ada sekitar 42,6 ribu hektare. Untuk menata hal itu, diperlukan kehati-hatian dan kesungguhan semua pihak dalam merekonstruksi kebijakan serta merencanakan langkah-langkah strategis guna mengembalikan fungsi lingkungan.
“Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah melakukan sejumlah simulasi model pengembalian alur air Sungai Ciliwung,” kata dia. Simulasi itu, termasuk penerapan teknik vegetatif melalui penanaman pohon serta teknik sipil dengan pembangunan embung-embung penampung air.
Tidak hanya itu, KLH bersama PTPN dan KSO, serta masyarakat juga melakukan aksi penanaman 15 ribu pohon secara serentak di kawasan hulu Sungai Ciliwung. “Aksi ini diharapkan menjadi langkah awal memperkuat resapan air dan menstabilkan fungsi ekologi di kawasan puncak,” ujar dia.
Ia juga menyebut, setidaknya hampir 700 meter persegi embung dengan kedalaman tertentu akan dibangun di titik-titik kulminasi air yang mengalir ke Sungai Ciliwung.
Selain itu, kolaborasi lintas wilayah juga diperlukan, mulai dari Pemerintah Kabupaten dan Kota Bogor, Pemerintah Kota Depok, hingga Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Upaya di wilayah hulu seperti Megamendung dan Cisarua dinilainya sangat menentukan keberlangsungan ekosistem di wilayah hilir.
Begitu juga pendekatan berbasis ekologi yang harus diperkuat. Untuk itu, pemberian sanksi terhadap pelanggaran lingkungan akan dievaluasi agar berfungsi sebagai pemicu perubahan perilaku dan kebijakan yang lebih berkelanjutan.
“Kita harus meletakkan persoalan lingkungan pada asas yang benar. Pelaku usaha di kawasan puncak wajib menginvestasikan keberlanjutan dengan mengembalikan fungsi tata lingkungan, terutama hidro-orologis kita,” tegasnya.(ayu)













