Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeKesehatanNews

Anak Banyak Konsumsi Jajanan Tinggi Gula dan Pewarna? Dokter IPB University Ingatkan Risiko Penyakit Jangka Panjang

×

Anak Banyak Konsumsi Jajanan Tinggi Gula dan Pewarna? Dokter IPB University Ingatkan Risiko Penyakit Jangka Panjang

Sebarkan artikel ini

Ilustrasi jajanan manis. (Pinterest)

Kesehatan, BogorUpdate.com – Jajanan manis dengan tampilan mencolok dan krim berwarna cerah kerap menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi anak-anak. Penampilan yang menarik serta rasa manis membuat jenis jajanan ini mudah viral di media sosial dan laris di pasaran.

Di balik tampilannya yang menggoda, muncul kekhawatiran terkait dugaan penggunaan bahan berbahaya serta tingginya kandungan gula dan pewarna buatan yang berpotensi membahayakan kesehatan anak.

Dokter Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran IPB University, dr Yusuf Ryadi, SKed, MKM, mengingatkan bahwa konsumsi makanan tinggi gula dan pewarna secara rutin berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak.

“Dampaknya cukup serius, terutama jika dikonsumsi rutin. Asupan gula berlebih terbukti meningkatkan risiko obesitas, gigi berlubang, gangguan metabolik, dan pada beberapa anak dapat memicu gangguan perilaku serta gangguan konsentrasi,” ujarnya melansir laman IPB, Rabu (28/1/26).

Meskipun pewarna dan perisa buatan yang digunakan bersifat food grade dan diperbolehkan secara regulasi, ia menyebut risiko tetap ada jika konsumsinya berlebihan atau berlangsung dalam jangka panjang. Hal ini menjadi lebih krusial karena sistem metabolisme anak masih dalam tahap perkembangan.

Fenomena jajanan viral dengan warna mencolok juga dinilai ikut mendorong meningkatnya masalah gizi pada anak. Menurut dr Yusuf, tren ini berkontribusi secara tidak langsung terhadap lonjakan obesitas dan penyakit tidak menular.

“Jajanan viral umumnya tinggi gula, lemak, dan kalori, namun rendah serat serta zat gizi. Jika pola konsumsi ini menjadi kebiasaan sejak dini, risiko obesitas anak meningkat dan dapat berlanjut menjadi diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia lebih muda,” jelasnya.

Lebih jauh, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula sejak dini juga berdampak pada pola makan jangka panjang. Anak dapat mengalami ketergantungan rasa manis dan kesulitan menerima makanan sehat di kemudian hari.

“Preferensi rasa terbentuk sejak kecil. Jika terbiasa dengan rasa manis dan warna mencolok, anak akan kesulitan membiasakan diri dengan makanan sehat yang secara visual dan rasa cenderung kalah menarik,” ungkap dr Yusuf.

Dari sisi pengawasan, dr Yusuf menilai regulasi sebenarnya sudah tersedia, namun penerapannya di lapangan masih menghadapi banyak tantangan. Produk jajanan rumahan, jajanan viral musiman, serta penjualan daring sering kali luput dari pengawasan rutin.

“Pengawasan terhadap takaran gula, jenis pewarna, dan bahan tambahan pada produk-produk tersebut masih menjadi celah,” katanya.

Ia menegaskan, langkah paling mendesak yang perlu dilakukan pemerintah adalah memperkuat pengawasan jajanan anak, memperjelas label kandungan gula dan bahan tambahan, serta melakukan edukasi masif kepada orang tua dan sekolah.

“Selain itu, perlu kebijakan yang mendorong terciptanya lingkungan pangan sehat, agar anak-anak memiliki akses yang mudah terhadap makanan bergizi, enak, dan aman,” tutupnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *