BogorUpdate.com – Walikota Bogor Bima Arya mengatakan kasus pemukulan Andika Ibnu (16) siswa kelas 1 SMA Negeri 2 Kota Bogor oleh kakak kelasnya merupakan perbuatan biadab, dan ia menyerahkan kasus tersebut kepihak kepolisian.
Hal itu disampaikan Bima Arya usai bertemu dengan jajaran guru, kepala sekolah dan perwakilan Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat pada Senin (01/10/18) siang.
Menyikapi persoalan tersebut, Bima mengaku akan melakukan invetigasi untuk mendalami kasus penganiayaan yang meninpa Andika, karena menurutnya hal itu kultur yang biadab dan kalau dengan cara seperti ini bukan mendukung olah raga.
“Buat apa ada olah raga kalau ada kekerasan seperti ini. Kami masih mendalami dan menyerahkan proses hukum kepada kepolisian. Kami perjelas dahulu, akan mencocokan keterangan Andika dan lainnya,” ungkap Bima.
Menurut dia, hal tersebut menjadi catatan Pemkot Bogor yang meminta pemerintah pusat mengkaji kembali kewenangan provinsi. Bima juga mengaku dirinya sudah menyampaikan di forum Apeksi perihal pengelolaan SMA.
“Presiden menyetujui pemerintah daerah mempunyai kewenangan lebih ditingkat SMA. Jadi kepala daerah saat ini membina sekolah tidak dibatasi. Kita harus antisipasi militansi berlebihan dalam bidang olah raga,” jelasnya.
Sementara Orang tua korban Endang Sutisna mengatakan, dirinya mengetahui anaknya sakit dibagian uluhati saat pulang ke rumah usai menonton semi final DBL pukul 23.30 WIB. Menurutnya dia, saat itu Andika mengeluh kesakitan, namun saat ditanya penyebabnya anaknya enggan mau bercerita.
“Dadanya sakit keluhannya, katanya dipukul tetapi pelakunya belum diketahui. Informasinya dipaksa menonton basket DBL,” tuturnya.
Ditempat yang sama, Wakil Kepala Sekolah SMA N 2 Kota Bogor Dede Sahidin menuturkan kronologis pemukulan yang menimpa muridnya, pada Kamis (27/09) ada pertandingan semifinal DBL mempertemukan SMA N 2 Kota Bogor dengan SMA N 2 Depok. Pertandingan selesai pada pukul 22.00 WIB dan tidak ada laporan kejadian apapun.
“Saya sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa Andika. Informasinya dia dipukul oleh kakak kelas dan sekolah menangani Andika dirujuk ke rumah sakit tempatnya VIP,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebelum pertandingan pihaknya menunggu disekolah sampai keberangkatan tim siswanya yang akan bertanding pukul 18.00 WIB.
“Untuk suporter tidak wajib, orang tua harus mengawasi bagi anak yang menjadi suporter,” jelas dia.
Saat ditanya ciri-ciri pelaku, Dede mengaku dirinya melihat melihat oknum memakai batik SMA N 2 Kota Bogor. Dan korban merupakan anak dari Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang sifatnya pendiam.
“Saat kejadian korban belum makan dan mau pulang untuk makan dirumah, tetapi korban itu dipaksa untuk jadi suporter oleh oknum kakak kelas lalu dipukulin. Hasil rontgen ada luka memar didalam bagian dekat uluhati,” jelas Dede.
Diketahui aparat kepolisian tengah mendalami kasus pemukulan dengan mengumpulkan petunjuk, salah satunya akan melihat CCTV pada hari kejadian. Namun Kapolsekta Tanah Sareal Kompol Suprayogi enggan diwawancarai, karena masih dalam pendalaman. (As)
Editor : Tobing
