
BogorUpdate.com – Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan sejumlah relawan melakukan evakuasi para korban saat banjir melanda di Kampung Bebek RT 01/10 Kelurahan Kedung Halang, Kecamatan Bogor Utara, Minggu (6/1/9).
Hal tersebut dilakukan petugas BPBD dan para relawan dalam
simulasi evakuasi mandiri bencana banjir yang kerap terjadi wilayah kampung bebek.
Simulasi tersebut digelar BPBD Kota Bogor yang bekerja sama dengan Non-Governmental Organization (NGO) yaitu Catholic Relief Services (CRS) serta menggandeng para relawan dari Tagana, PMI, Damkar, KATANA Kedung Halang dan dari Tim Sigap SDN Kedung Halang 5.
Kepala BPBD Ganjar Gunawan mengatakan, Kampung Bebek, selalu kena banjir dari luapan Ciliwung dan Sungai Ciliwung adalah kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BWSS) Ciliwung – Cisadane dibawah kementrian PU.
Namun menyikapi persoalan banjir di Kampung Bebek yang sudah menjadi langganan, Ganjar menjelaskan apa saja yang bisa dilakukan di bawah, paling tidak kesadaran masyarakat di tingkatkan.
“Mereka yang berada dikawasan rawan luapan sungai Ciliwung kita berikan latihan simulasi, tujuannya unruk mengurangi dampak yang terjadi,” kata Ganjar.
Menurut dia, banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi banjir datang, misalnya perbaikan saluran air dan warga mengikuti aturan pemerintah untuk tidak membangun di daerah sempadan sungai/kali.
Selain itu kata Ganjar, peran masyarakat lainnya adalah meningkatkan kesadaran untuk tidak membuang ke kali, membuat sumur resapan, membuat lubang biopori, meningkatkan budaya sadar bencana serta memelihara lingkungan khususnya di kawasan hulu sungai dengan penanaman pohon.
“Tapi, kalo itu semua belom dilakukan dan banjir keburu datang ya selamatkan dulu jiwa itu yang utama,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan yang di Kedunghalang sekarang adalah kelanjutan project kemitraan antara BPBD dengan sebuah NGO yakni CRS dengan lokasi di 3 kelurahan yakni Kedunghalang, Gudang, dan Cibogor.
Masih kata dia, sejauh ini dari 68 kelurahan yang ada di Kota Bogor, pihaknya sudah memberikan pelatihan sejak 2016 hingg 2018 ke 8 kelurahan serta di tambah 3 keluraha yang bekerjasama dengan NGO.
“Di 11 kelurahan itu, kita sudahbentuk semacam pokja siaga bencana atau forum pengurangan risiko bencana dari masyarakat dengan harapan mereka bisa mengedukasi masyarakat lainnya dan juga harus berperan aktif ketika terjadi bencana di wilayahnya,” tambahnya.
Menurut Ganjar, masyarakat adalah first responder, artinya masy adalah yang terkena dampak langsung. “Soo, jangan hanya jadi penonton saja, tapi diminta action untuk berbuat sesuatu dengan kesadarannya,” cetusnya.
Dalam kontek ini lanjut dia, bukan berarti mau cegah agar bencana gak terjadi, karna siapa pun itu mah gak bisa. “Tapi, kita siapkan masyarakatnya untuk lebih peka, lebih peduli, lebih tanggap, sehingga dampak bencana bisa kita minimalisir sekecil mungkin,” tandasnya. (As)
Editor : Tobing







