Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeNews

Diskanak Beberkan 6 Ribu Ekor Ikan Mati di Situ Citongtut, Normalisasi Perairan Bakal Dilakukan

×

Diskanak Beberkan 6 Ribu Ekor Ikan Mati di Situ Citongtut, Normalisasi Perairan Bakal Dilakukan

Sebarkan artikel ini
Diskanak Kabupaten Bogor saat mengecek sampel air di aliran Situ Citongtut yang membuat ribuan ekor ikan mati mendadak. (Dok Diskanak Kab Bogor)

Gunung Putri, BogorUpdate.com – Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Bogor membeberkan fenomena matinya 6 ribu ekor ikan di Situ Citongtut, Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

Ketua Tim Pengawasan Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap Diskanak Kabupaten Bogor, Yayan Buduayana mengatakan bahwa matinya 6 ribu ekor di Situ Citongtut itu bermula saat adanya air yang masuk ke tempat tersebut melalui saluran pemasukan (Inlet) yang tiba-tiba berubah warna menjadi kuning berminyak dan bau, pada Kamis, (22/1/2026) malam.

Kemudian pada Jumat, (23/1/2026), sejumlah ikan mulai muncul di atas permukaan dengan kondisi lemas atau mabuk, serta beberapa ekor ikan mati.

“Pada Sabtu, 24 Januari 2026 ini terjadi kematian massal di Situ Citongtut dengan kondisi terapung,” ujar Yayan kepada BogorUpdate.com, Selasa, (27/1/2026).

Dari hasil pemeriksaan dan evakuasi, kata Yayan, total ada 6 ribu ekor ikan liar dan ikan nila merah peliharaan komunitas Gerakan Pungut Sampah (GPS) mati.

“5 ribu ekor ikan liar mati yang kemudian dievakuasi ke dalam 38 karung dengan berat mencapai satu ton, sedangkan ikan nila yang mati mencapai 1 ribu ekor dengan ukuran 8-12 cm per ekor,” katanya.

Usai dievakuasi, ribuan ekor ikan itu lalu dikuburkan ke sekitaran Situ Citongtut.

“Diduga yang menjadi penyebab kematian ikan adalah adanya perubahan lingkungan perairan yang ekstrem, bukan karena penyakit ikan,” paparnya.

Yayan menjelaskan, berdasarkan informasi yang didapatnya, ada 23 lebih perusahaan di hulu saluran inlet sebelum air masuk ke Situ Citongtut.

“Kegiatan industri yang dilakukan perusahaan-perusahaan tersebut seperti pembuatan lem, parfum, air minum dalam kemasan, dan chemical, besi atau baja, keramik, dan farmasi,” terangnya.

Yayan mengungkapkan, ribuan ekor ikan yang mati itu didominasi oleh ikan sapu-sapu hampir 80 persen, nila, sepat, belut, dan nila merah milik komunitas GPS yang ada di keramba jaring apung.

Ke depan, lanjut dia, pihaknya akan segera melakukan kajian khusus untuk pemulihan ekosistem di Situ Citongtut tersebut.

“Kita akan melakukan normalisasi dan pengerukan dasar Situ Citongtut secara periodik untuk membuang zat toksik di dasar perairan,” bebernya.

Selain itu, tambahnya, pihaknya juga akan memberi bantuan stimulan perikanan berupa benih ikan dan pakan untuk mengurangi risiko ekonomi bagi pembudidaya ikan keramba jaring apung di Situ Citongtut.

Lalu, memberikan bantuan kepada Pokmaswas Desa Cicadas berupa perlengkapan untuk kegiatan pengawasan dan pemeliharaan perairan umum di Situ Citongtut secara rutin.

“Kita juga akan melakukan penebaran benih ikan lokal untuk menjaga ekosistem dan keanekaragaman jenis ikan asli di Situ Citongtut,” tutupnya. (Erwin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *