Bogor RayaHomeLifestyleNews

HPN Wartawan HPN Indonesia

Oleh : Saiful Kurniana, S.E
(Wapimred BogorUpdate.com)

Forum Rakyat, BogorUpdate.com
Ada yang menarik saat Kapolres Bogor, AKBP Iman Imanuddin menyebut wartawan adalah pahlawan pemersatu Indonesia.

Pernyataan ini melengkapi beberapa julukan untuk jurnalis yang menurut perwira polisi bertitel Doktor ini sangat strategis.

Strategis karena dengan kemampuannya, seorang wartawan bisa jadi pereduksi potensi konflik dengan tulisan yang tidak emosional, bernada provokatif dan sejenisnya.

Kapolres yang yang baru masuk Bogor ini menyampaikan pernyataan nya saat moment puncak Hari Pers Nasional (HPN) bersama PWI dan Pokja Wartawan Polres Bogor beberapara waktu lalu. Jadi istimewa, sebab dengan menyematkan julukan baru sebagai pahlawan pemersatu, kebutuhan Indonesia untuk damai di antara keberagaman suku dan budayanya, akan jadi spirit sekaligus tantangan bagi wartawan agar bisa melakukan tugasnya dengan benar, profesional dan tentu tidak ada tendensius dalam menulis berita.

Per hari ini, industri media massa telah menancapkan kukunya diranah digital. Masuknya media massa ke arena ini melengkapi perjalanan panjang setelah sebelumnya mengalami pasang surut.

Penulis sendiri akhirnya hengkang dari harian Surabaya Post yang harus tumbang melawan derasnya pengaruh media televisi. Harian Surabaya Post yang sebelumnya ber oplah ratusan ribu exemplar mesti rela pembacanya bergeser ke Televisi untuk memenuhi kebutuhan berita. Lebih tragis karena penikmat berita ini ternyata sebagian dari jutaan masyarakat kita yang gemar dengan hiburan. Dan itu ada di televisi.

Saat bersamaan, bibit transformasi dimulai dari media cetak ke media online. penggagas media massa dengan basis online mulai bertaruh dengan membuat konten pemberitaan. Maka munculah detik.com yang diakui jadi salah satu pemain pertama media online di Indonesia. Berikutnya Perusahaan media massa besar sepeti Kompas dan Pikiran Rakyat bahkan masuk ke ranah ini mengikuti trend yang belakangan terus berkembang.

Era digital memberi kemudahan sekaligus menjanjikan biaya lebih murah untuk bisa di akses termasuk untuk konten berita. Selain itu, media online punya spesifikasi sangat gampang di sebarkan. Maka tak heran jika dalam 10 tahun terakhir tidak hanya perusahaan media kelas kakap yang ambil bagian. Hampir semua wartawan (dengan jumlah yang sangat banyak) memilih media online untuk eksistensinya.

Segalanya jadi mungkin sebab aktualisasinya dapat dukungan negara setelah presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) mencanangkan era kebebasan bagi siapa saja untuk melalukakan kegiatan di dunia Pers.

Namun kebebasan tetap memberi dampak dan resiko. Disini problematika kebebesan berbanding lurus dengan wartawan yang tetap dituntut untuk bisa bekerja sesuai kaidah jurnalistik. Secara individu seorang wartawan tetap harus berpikir kritis dan mandiri dalam menuliskan berita. Disisi lain, perbincangan wartawan sebagai manusia yang juga harus memenuhi kebutuhan hidup, belum pernah clear.

Wartawan juga potensial jadi objek kepentingan. Sehingga hanya perlu kewaspadaan apakah kepentingan itu bisa jadi daya perusak atau sebaliknya memberikan iklim yang kondusif bagi tatanan dan kehidupan masyarakat luas.

Begitu dahsyatnya kekuatan opini yang bisa di giring oleh wartawan. Sebuah perang besar akan pecah kalau kekuatan media massa sudah mengarahkan nya pada kebuntuan upaya negosiasi damai.

Karenanya, julukan pahlawan pemersatu menjadi referensi urgent yang diperlukan Indonesia kekinian. HPN menjadi naif kalau hanya untuk seremoni wartawan. Sebab HPN punya makna luas sekaligus penting untuk mengarahkannya pada kepentingan Indonesia yang bersatu dan kokoh. Jadi HPN tidak hanya untuk wartawan tapi HPN untuk Indonesia.

Exit mobile version