Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeNewsPemerintahan

Ini Penjelasan dr Zen Terkait Vaksin Covid-19 Yang Diterima Pemkab Bogor

×

Ini Penjelasan dr Zen Terkait Vaksin Covid-19 Yang Diterima Pemkab Bogor

Sebarkan artikel ini

Foto Bupati Bogor, Iwan Setiawan saat menerima Vaksin Sinovac, bertempat di Dinas kesehatan Kabupaten Bogor, Selasa (26/1/21).

Cibinong, BogorUpdate.com
Sebanyak 25.600, Vaksin covid-19 jenis Sinovac tahap 1 (pertama) yang diperuntukan bagi tenaga kesehatan (Nakes) ini diterima langsung oleh Wakil Bupati Bogor Iwan Setiawan di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Rabu (26/01/21).

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr Achmad Zaenudin dalam penjelasannya mengatakan vaksinasi adalah kegiatan pemberian vaksin kepada seseorang di mana vaksin tersebut berisi satu atau lebih antigen. Saat vaksin dimasukkan ke dalam tubuh, sistem kekebalan tubuh akan melihatnya sebagai antigen atau musuh.

“Dengan begitu, sebagai respon adanya ancaman dari musuh maka tubuh akan memproduksi antibodi untuk melawan antigen tersebut. Namun, kekebalan yang didapat melalui vaksinasi, tidaklah bertahan seumur hidup terhadap infeksi penyakit berbahaya” Kata dr Zen sapaan akrabnya, Selasa (26/1/21).

Dijelaskan dr Zen, Vaksin adalah zat yang sengaja dibuat untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh dari penyakit tertentu, sehingga bisa mencegah terjangkit dari penyakit tertentu tersebut.

“Saat ini sudah ada 30 jenis vaksin yang diciptakan sejak konsep vaksinasi dilakukan Edward Jenner pertama kalinya pada 1796,” terangnya.

dr Zen menyebutkan, Ada empat jenis vaksin, yaitu: 1. Vaksin hidup. Di antaranya adalah Vaksin Polio Oral (OPV), campak, rotavirus, demam kuning. 2. Vaksin yang sudah dimatikan. Di antaranya adalah vaksin pertusis utuh, IPV. 3) Vaksin yang berisi sub unit dari antigen (antigen yang sudah dimurnikan). Di antaranya vaksin Hepatitis B. dan 4. Vaksin yang berisi toksoid (Toksin yang sudah diinaktivasi). Di antaranya adalah vaksin Toksoid Tetanus dan Difteri toksoid.

“Vaksin Covid-19 menumbuhkan harapan berakhirnya pandemi, malah terdapat antusias yang berlebihan hingga cenderung pada euphoria bahwa keadaan akan segera normal kembali seperti sebelum pandemi,” paparnya.

Namun patut disadari, selama ini berdasarkan pengalaman mengatasi wabah penyakit, ternyata kalau hanya dengan melakukan vaksinasi saja tidak akan mampu mengakhiri pandemi. Meski besar konstribusinya, tapi vaksinasi hanya salah satu cara dari seluruh upaya yang secara simultan harus dijalankan untuk menghentikan pandemi.

“Perlu dihindari harapan yang berlebihan agar tidak terjadi rasa aman yang semu,” tukasnya.

Dewasa ini terdapat beberapa vaksin Covid-19 yang telah mendapatkan Persetujuan Penggunaan Dalam Kondisi Darurat Atau Emergency Use Authorization (EUA) dari otoritas regulator kesehatan. Sementara cukup banyak lagi yang masih dalam proses penelitian, termasuk vaksin Merah Putih dari Indonesia.

“Secara internasional, penetapan ini telah memenuhi kriteria WHO, yakni terdapat cukup bukti ilmiah terkait aspek keamanan dan khasiat, memiliki mutu yang memenuhi standar yang berlaku serta dibuat berdasarkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), dan belum ada alternatif yang memadai dalam mengatasi kedaruratan kesehatan,” jelasnya.

Saat ini, lanjutnya, vaksin CoronaVac produksi Sinovac telah mendapatkan persetujuan penggunaan dalam kondisi darurat di Indonesia dan di beberapa negara lain. Berdasarkan uji klinis di Bandung, vaksin Sinovac menunjukkan imunogenitas sebesar 99,23%. Vaksin Sinovac menunjukkan efikasi 65,3% yang melebihi persyaratan minimal WHO sebesar 50%.

“Hasil uji klinis di Bandung menunjukkan imunogenitas sebesar 99,23% berarti hampir semua yang mendapatkan vaksin Sinovac dalam tubuhnya terbentuk antibodi yang secara spesifik mampu membunuh atau menetralkan Virus Corona Baru (SARS-CoV-2),” terangnya.

Dijelaskan lebih lanjut, Vaksinasi Sinovac mengakibatkan berlangsungnya respon imunitas tubuh hingga mampu membentuk antibodi yang spesifik terhadap Virus Corona Baru (SARS-CoV-2) yang merupakan virus penyebab Covid-19. Akan tetapi pembentukan antibodi tidak serta merta, melainkan membutuhkan waktu. Kemudian untuk meningkatkan pembentukan antibodi perlu dilakukan 2 kali penyuntikan vaksinasi dengan selang waktu 2 minggu. Antibodi akan mencapai jumlah yang optimal sekitar 3 bulan setelah vaksinasi.

“Sedang efikasi vaksin Sinovac sebesar 65,3% menunjukkan kemampuan menurunkan kemungkinan terkena penyakit COVID-19 hingga 65,3%. Efikasi adalah tingkat penurunan kemungkinan terkena penyakit pada mereka yang telah divaksinasi, dibandingkan dengan mereka yang tidak divaksinasi. Dengan demikian efikasi 65,3% berarti pada mereka yang telah divaksinasi akan terjadi penurunan penyakit sebesar 65,3%, dibandingkan dengan mereka yang tidak divaksinasi,” katanya.

Dengan efikasi vaksin Sinovac sebesar 65,3% misalnya jika tidak dilakukan vaksinasi akan terjadi 100 orang terkena Covid-19, maka dengan vaksinasi orang yang terkena bukannya 100 orang tetapi berkurang 65 orang yang terhindar dari Covid-19.  Di lain pihak hal ini berarti masih ada 35 orang yang terkena Covid-19, meskipun dalam tubuhnya sudah terdapat antibodi. Dengan demikian bila dilakukan vaksinasi Sinovac terjadi penurunan jumlah orang yang terkena Covid-19 secara signifikan, namun kemungkinan terkena Covid-19 tetap ada.

“Meski diperkirakan kalau sudah divaksinasi dan tetap terkena Covid-19 maka manifestasi penyakitnya tidak separah bila tidak dilakukan vaksinasi, karena dalam tubuhnya sudah terdapat antibodi,” imbuh dr Zen.

Kendatipun sudah dilakukan vaksinasi namun tetap masih ada kemungkinan terkena Covid-19, walau kemungkinan tersebut sudah sangat menurun bila dibandingkan dengan tidak divaksinasi. Dengan demikian selain vaksinasi, maka upaya pencegahan lainnya tetap perlu dijalankan. Tetap perlu dijalankan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

“Dengan vaksinasi, penurunan risiko terkena penyakit dapat dilihat dari efikasinya. Memakai masker bedah diperkirakan mengurangi risiko tertular Covid-19 sampai 70% (berarti masih ada 30% kemungkinan tertular/menulari), sedang masker kain hanya mengurangi risiko sampai 45%. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir akan mengurangi risiko hanya sampai 45%. Sedangkan menjaga jarak minimum 2 meter akan mengurangi risiko sampai 85%,” jelasnya.

Dalam mewujudkan ekspetansi berakhirnya pandemi Covid-19, maka perlu secara simultan dijalankan kombinasi pelbagai upaya pencegahan yang secara akumulatif akan sangat meminimalisir kemungkinan terjangkit. Vaksinasi yang dijalankan harus tetap disertai memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Dengan demikian dapat dikatakan perlu dilakukan pencegahan Covid-19 secara ‘luar dalam’.

“Dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, maka virus Corona Baru yang terdapat di luar tubuh tidak akan memasuki tubuh. Sedangkan vaksinasi akan menyebabkan dalam tubuh akan terdapat antibodi untuk mematikan virus Corona Baru,” ucapnya.

Diharapkan dengan secara simultan menjalan vaksinasi, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, maka akan meningkatkan kemungkinan terhindar dari Covid-19.

“Sehingga dapat secara drastis memutus mata rantai penularan sampai berakhirnya pandemi Covid-19,” tutupnya.

 

 

 

 

 

(Cek/bing)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *