
Getaran hebat dari sejumlah alat berat proyek rest area Tajur, merusak lingkungan warga. Selain itu, lingkungan di sekitar Biotrop Tajur kini dikotori oleh tanah bercampur pasir
BogorUpdate.com – Pemerintah Kota Bogor berencana melakukan pemeriksaan terkait kerusakan lingkungan akibat proyek rest area di wilayah Biotrop Tajur. Itu dilakukan untuk merespon adanya gelombang reaksi warga sekitar yang merasa dirugikan.
“Jika sudah ada reaksi dari masyarakat, kami akan merespon. Nanti Satpol PP akan kami terjunkan untuk memeriksa,” kata Wakil Walikota Bogor, Usmar Harimar, saat dihubungi melalui ponselnya, kemarin.
Menurut Usmar, pelaksanaan proyek di wilayah Bogor wajib memperhatikan lingkungan setempat. “Dampak dari pembangunan jika menyebabkan kerusakan lingkungan, dinas lingkungan hidup akan mengeceknya,” tandas Usmar.
Jika terbukti didapati ada pelanggaran SOP atau kelalaian pelaksana, maka Pemkot Bogor akan menghentikan pelaksanaan proyek demi penyelidikan.
Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bogor, Deni Mulyadi membenarkan jika proyek milik PT Sinar Indonesia Loka yang sedang digarap PT Djasa Uber Sakti telah mengantongi perizinan.
“Kalau soal analisis dampak lingkungan akan kami cek ke Dinas Lingkungan Hidup. Amdal Lingkungan hanya berupa rekomendasi, dilaksanakan atau tidak oleh pelaksana harus dicek,” ungkap Deni.
Dalam waktu dekat, kata Deni, pihaknya akan segera menerjunkan tim pengawas untuk memonitor kegiatan proyek pembangunan kawasan kuliner dan rekreasi itu.
Sejumlah perwakilan warga telah berunding dengan pimpinan proyek, untuk menyelesaikan sengketa di antara mereka. Namun kepada media, Deni sang pimpinan proyek yang menjadi penanggungjawab kegiatan dan aktivitas di sekitar itu, belum memberikan jawaban. “Bukan bagian saya menjawab pertanyaan media,” kata Deni.
Sebelumnya, puluhan warga Biotrop-Tajur, ramai-ramai mendatangi proyek pembangunan Rest Area, Senin (17/12/2018).
Sejak pagi hari, sejumlah warga itu menghampiri pintu gerbang proyek milik PT Sinar Indonesia Loka yang sedang digarap oleh PT Djasa Uber Sakti.
Sopyan, Ketua Pemuda Biotrop menjelaskan, sejak pelaksanaan proyek tersebut, lingkungan mereka menjadi kotor, berdebu saat terik panas matahari dan becek bercampur licin saat hujan melanda.
“Seharusnya truk-truk itu dibersihkan dulu setelah memasuki kawasan proyek. Ini pelaksananya tidak profesional akibatnya warga jadi korban. Kami penduduk asli disini tolong hormati,” tandas Sopyan.
Amarah Sopyan dan warga lainnya nyaris tak terbendung. Sebab, sejak proyek terlaksana, banyak dampak negatif yang dialami warga.
“Analisis Dampak Lingkungan dikaji dimana itu, apa hasil nyogok bisa lolos begitu saja. Kami minta proyek dihentikan dulu sampai ada kajian lebih lanjut. Keberadaan proyek ini jelas merugikan kami warga sekitar,” kata Eko, warga Biotrop-Tajur.
Selain berdampak buruk bagi lingkungan, jalanan yang licin juga telah menyebabkan serangkaian peristiwa kecelakaan tunggal. “Tanah-tanah yang terbawa truk itu bikin jalanan licin, sudah beberapa pengendara roda dua terjatuh,” ujar Eko. (Billy Adhiyaksa)
Editor : Tobing







