Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeNews

Pemkab Bogor Mulai Data Bangunan Terdampak Pelebaran Jalur Alternatif Puncak

×

Pemkab Bogor Mulai Data Bangunan Terdampak Pelebaran Jalur Alternatif Puncak

Sebarkan artikel ini
Pemkab Bogor bersama pihak Kecamatan Cisarua mulai melakukan pendataan kepada pemilik lahan yang terdampak pelebaran jalur alternatif puncak. (Abizar | Bogorupdate)

Cisarua, BogorUpdate.com – Pemerintah Kabupaten Bogor mulai melakukan pendataan bangunan yang terdampak rencana pelebaran sejumlah titik persimpangan di jalur alternatif Puncak. Program pelebaran ini direncanakan mencakup wilayah Megamendung hingga Cisarua.

Bupati Bogor, Rudy Susmanto, sebelumnya menyampaikan bahwa pelebaran akan difokuskan pada beberapa titik rawan kemacetan di jalur alternatif tersebut. Hal itu dibenarkan oleh Camat Cisarua, Heri Risnandar.

“Iya, pelebaran akan menyasar sejumlah titik, yaitu akses alternatif dari Gadog–Cikopo Selatan, simpang Masjid Pusdik Megamendung, Cilember, Hankam Leuwimalang hingga perempatan Pasar Cisarua,” ujarnya, Rabu (3/12/2025).

Menurut Heri, langkah ini dilakukan untuk mengurai kemacetan yang kerap terjadi terutama pada akhir pekan serta musim liburan saat volume kendaraan meningkat.

Pendataan dilakukan oleh tim gabungan Pemkab Bogor yang terdiri dari DPKPP, Satpol PP Kabupaten Bogor, DPMD, pihak kecamatan, serta pemerintah desa.

“Pendataan dilakukan terhadap bangunan yang berada di lokasi rencana pelebaran. Ini termasuk kios dan sebagian rumah tinggal yang berada di muka jalan alternatif,” jelasnya.

Heri menambahkan, hasil pendataan akan dibahas dalam rapat dinas bersama Bupati Bogor untuk menentukan langkah lanjutan.

Dari hasil pantauan di lapangan, terdapat tujuh titik rawan kemacetan di jalur alternatif Puncak, yaitu Simpang Gadog-Cikopo Selatan, Pasir Angin, Pusdik Megamendung, Cilember, Hankam, Kongsi Pasar Cisarua, dan Simpang Taman Safari Indonesia (TSI).

Kasi Pengendalian dan Operasi Satpol PP Kabupaten Bogor, Efendi, mengatakan bahwa dari tujuh titik tersebut, hanya Simpang TSI yang memiliki lebar akses jalan yang dinilai ideal.

“Sementara titik lainnya rata-rata hanya memiliki lebar 3–4 meter, sehingga diperlukan pelebaran,” tandasnya.

Rencana pelebaran ini diharapkan dapat memperlancar arus lalu lintas serta mendukung pengembangan kawasan wisata Puncak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *