Momen Plt Bupati Bogor, Iwan Setiawan melantik 4 Dirut RSUD se-Kabupaten Bogor, Selasa 22 November 2022. (Dok Humas Bogorkab)
Oleh: Effendi Tobing
(Warga Kabupaten Bogor)
Opini, BogorUpdate.com – Plt Bupati Bogor Iwan Setiawan tampaknya kurang jeli dalam memilih dan menentukan siapa yang layak menjadi pembantunya dalam hal pelayanan kesehatan untuk masyarakat Bumi Tegar Beriman, khususnya jajaran Direksi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).
Tanpa melihat jejak dan latar belakangnya, Plt Bupati Bogor diduga asal main tunjuk dan lantik untuk jabatan strategis sekelas Direktur Utama (Dirut) RSUD. Walau tetap melalui seleksi terbuka atau open bidding, dan sesuai peraturan yang berlaku, tiga besar yang telah lulus seleksi terbuka maka nantinya dipilih oleh Bupati atau Plt Bupati. Disinilah terlihat bahwa Plt Bupati Bogor tidak jeli memilih satu diantara peserta seleksi tersebut.
Diketahui, Plt Bupati Bogor Iwan Setiawan melantik empat pucuk pimpinan RSUD se-Kabupaten Bogor, pada Selasa 22 November 2022 lalu. Empat Dirut RSUD yang dilantik itu diantaranya, dr. Yukie Meistisia Ananda Putri Satoto, sebagai Dirut RSUD Cibinong, dr. Fusia Meidiawaty, sebagai Dirut RSUD Ciawi, dr. Vitrie Winastri, sebagai Dirut RSUD Leuwiliang, dan dr. Kusnadi, sebagai Dirut RSUD Cileungsi.
Dari nama-nama diatas, mungkin masyarakat Kabupaten Bogor ada yang belum mengetahui, dan sebelum menentukan pilihan mungkin Plt Bupati Bogor lupa kalau dua diantara yang dilantiknya itu diduga turut serta melakukan suap terhadap auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jawa Barat (Jabar), yang menjerat Ade Yasin kala itu. Dimana, dr. Yukie Meistisia Ananda Putri Satoto dan dr. Vitrie Winastri di dalam persidangan terungkap memberikan sejumlah uang kepada Ihsan Ayatullah untuk diberikan kepada BPK.
Saat menjadi saksi di sidang kasus suap Ade Yasin terhadap auditor BPK Jabar, dr. Yukie Meistisia Ananda Putri Satoto masih menjabat sebagai Wakil Direktur (Wadir) RSUD Ciawi. Ia pun dimintai kesaksiannya oleh Hakim Ketua Hera Kartiningsih dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Tipikor Bandung, pada Senin 15 Agustus 2022.
Mengutip BogorUpdate.com, dalam kesaksiannya, dr. Yukie menyebutkan bahwa permintaan uang dari Ihsan Ayatullah berawal adanya Pemeriksaan Keuangan oleh BPK Jabar tahun anggaran 2021. Lalu Ihsan mengharuskan pihaknya menyediakan uang senilai Rp200 juta.
“Untuk Proyek RSUD Ciawi diminta oleh Ihsan menyediakan uang sebanyak Rp200 juta untuk antisipasi adanya temuan BPK Jawa Barat,” ungkap dr Yukie, seperti tayang di BogorUpdate.com, pada Senin (15/8/2022).
Akhirnya, sambung Yukie, karena melihat Ihsan yang diyakini sebagai kepanjangan dari Rachmat Yasin maka pihaknya menyiapkan uang yang diminta dengan cara patungan.
“Kami patungan, sampai uang terkumpul Rp200 juta yang diberikan kepada Ihsan dengan harapan bisa selesai permasalahan tersebut,” katanya.
Namun, pemberian uang tersebut dilakukan secara bertahap menjadi 2 kali. Pertama Februari tanggal 15 dan yang kedua 20 Februari sebesar Rp100 juta, kemudian untuk yang 100 juta selanjutnya pada bulan Februari 2022 jadi total 200 juta hasil dari patungan 3 orang.
“Uang yang terkumpul dari hasil patungan tiga orang yakni, Dirut RSUD Ciawi sebesar Rp80 juta, Saya Rp60 Juta dan Vitrie Winastri Rp60 juta. Ada juga uang simpanan pribadi,” jelasnya.
Dari kesaksian di sidang tersebut, jelas bahwa ada pengakuan dari dr. Yukie Meistisia Ananda Putri Satoto yang saat ini menjabat Dirut RSUD Cibinong, terlibat melakukan suap terhadap auditor BPK Jabar bersama dengan dr. Vitrie Winastri yang saat itu menjabat sebagai Wadir Pelayanan RSUD Ciawi dan sekarang jadi Dirut RSUD Leuwiliang.
Sebagai warga Kabupaten Bogor, penulis merasa sangat miris melihat apa yang di lakukan oleh Plt Bupati Bogor saat ini. Dengan adanya pengakuan telah melakukan suap, malah orang-orang yang demikian dipilih untuk memimpin sebuah instansi atau Badan yang tugasnya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Mau dibawa kemana arah pemerintahan Kabupaten Bogor ini, jika pelaku KKN saja masih ‘dipakai’ jadi kepanjangan tangan melayani masyarakat.
Terbaru, bahkan Plt Bupati Bogor melakukan rotasi yang kuat dugaan berbau unsur ‘Tidak suka’ dengan seseorang, karena mungkin bukan orangnya. Lagi-lagi tanpa melihat rekam jejak dan dedikasi yang sudah 30 tahun lebih mengabdi di satu instansi, tiba-tiba dipindahkan ke instansi yang sama sekali bukan bidangnya. Sementara ASN tersebut diketahui satu tahun lagi akan pensiun.
Sebagai warga biasa yang ingin Kabupaten Bogor baik-baik saja, berharap kedepan agar Plt Bupati Bogor Iwan Setiawan benar-benar bijak dan tidak gegabah dalam memilih siapa pembantunya untuk melayani masyarakat. Jangan hanya karena sesuatu hal, lantas main tunjuk, yang akhirnya offside di akhir cerita.
Karena menurut ‘issu’ yang beredar, setiap jabatan yang diberikan itu tidak gratis, walau sumpah injak Al-Qur’an pernah terucap dari Plt Bupati Bogor untuk membantah dugaan jual beli jabatan itu. Tapi sekali lagi, saran penulis yang mencintai Plt Bupati sebagai orang nomor satu di Kabupaten Bogor saat ini, agar tetap pakai hati, dan utamakan kualitas dalam mencari, memilih dan menentukan siapa yang layak menduduki suatu jabatan di instansi atau SKPD demi kebaikan roda pemerintahan Kabupaten Bogor kedepan.













