Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeNews

Praktisi Pendidikan: Les Seharusnya di Luar Sekolah

×

Praktisi Pendidikan: Les Seharusnya di Luar Sekolah

Sebarkan artikel ini

Dugaan Guru SDN Pajeleran 01 Intimidasi Siswa

Bogor, Bogorupdate.com, Dugaan intimidasi yang dilakukan guru SDN Pajeleran 01, kepada siswanya mendapat sorotan dari praktisi pendidikan Agus Sriyanta.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah wali murid kelas IV E SDN Pajeleran 01, Cibinong, Kabupaten Bogor, melakukan aksi demo menuntut guru berinisal S di nonaktifkan.

Mereka menduga S melakukan intimidasi terhadap siswanya yang tidak ikut les atau bimbingan belajar yang diselenggarakan olehnya di luar jam belajar dengan biaya Rp250 ribu.

Selain itu, S juga diduga melakukan pungutan liar (pungli) berupa uang kas kelas.

Menyikapi hal itu, Agus Sriyanta menyebut apa yang terjadi di SDN Pajeleran 01 merupakan persoalan klasik yang hampir terjadi di kebanyakan sekolah.

Hanya saja, yang menjadi sorotan dia, adalah penyelenggaraan les yang diadakan di sekolah dengan guru yang bersangkutan. Menurut dia, seharusnya les itu diadakan di luar sekolah. Begitu juga dengan guru yang memberikan bimbingan, bukan wali kelas atau guru yang sama.

Di sisi lain, ia tidak mempersoalkan pengayaan atau remedial bagi siswa. Sebab, tidak sedikit dari mereka mengalami ketertinggalan dalam mengikuti pembelajaran.

“Tetapi untuk menjaga objektivitas dan akuntabilitas, siswa yang les bukan diajar oleh guru yang bersangkutan. Ini supaya tidak ada kecemburuan dari siswa-siswa yang tidak ikut les,” kata dia.

Ia pun mengimbau agar sekolah bisa membuat aturan baku tentang larangan penyelenggaraan les di sekolah. “Persoalan ini harus dipecahkan bersama-sama. Apalagi kalau membocorkan soal dan jawaban, ini sangat tidak boleh,” ujar Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Jawa Barat ini.

Soal pencopotan dan penonaktifan guru tersebut, pemilik SIT Al Madinah ini menilainya tidak perlu dilakukan. Menurutnya, persoalan ini seharusnya bisa dibicarakan baik-baik. Apalagi, persoalan seperti ini hampir terjadi di banyak sekolah.

“Ini belum kesalahan fatal. Bisa dibicarakan bersama kepala sekolah, guru dan orangtua siswa untuk dicarikan solusinya,” pungkas dia.(ayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *