Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeKesehatanNews

Ubi Bikin Mudah Kentut? Penderita Penyakit Ini Mesti Hati-hati Konsumsi Ubi

×

Ubi Bikin Mudah Kentut? Penderita Penyakit Ini Mesti Hati-hati Konsumsi Ubi

Sebarkan artikel ini

ilustrasi ubi. (Ist)

Kesehatan, BogorUpdate.com – Siapa yang tidak pernah mengalami momen canggung setelah makan ubi? Perut terasa kembung dan hasrat untuk buang gas meningkat drastis. Fenomena yang kerap membuat orang enggan mengonsumsi ubi ini ternyata memiliki penjelasan ilmiah yang menarik.

Annisa Rizkiriani, SGz, MSi, dosen bidang gizi IPB University membenarkan bahwa setelah mengonsumsi ubi, sebagian orang akan mengalami peningkatan produksi gas (flatulensi). Hal ini disebabkan oleh kandungan karbohidrat kompleks dan serat larut dalam ubi, terutama oligosakarida seperti raffinose dan stakiosa.

“Oligosakarida ini tidak dapat dicerna oleh enzim di saluran cerna bagian atas, sehingga difermentasi oleh bakteri usus besar. Proses fermentasi inilah yang menghasilkan gas seperti hidrogen, metana, dan karbon dioksida,” jelasnya melansir laman IPB, Jumat (8/8/25).

Kandungan Gizi Tinggi Ubi Jalar
Meski menimbulkan efek samping berupa gas, ubi terutama ubi jalar (Ipomoea batatas) memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Meliputi karbohidrat kompleks (terutama pati), serat pangan (sekitar 3 gram/100 gram), vitamin A (terutama beta-karoten pada ubi jalar oranye), vitamin C, kalium, vitamin B6, antioksidan (flavonoid, fenolik), serta sedikit protein (1-2 gram/100 gram).

“Ubi memiliki banyak manfaat bagi kesehatan seperti menjaga kesehatan pencernaan karena kandungan seratnya serta meningkatkan imunitas tubuh berkat kandungan beta-karoten dan vitamin C,” kata Annisa.

Manfaat lainnya, kandungan kalium di dalam ubi dapat menurunkan tekanan darah. Jenis ubi dengan indeks glikemik sedang hingga rendah mampu mengontrol kadar gula darah. Selain itu, ubi juga bersifat antioksidan dan antiinflamasi alami.

Siapa yang Direkomendasikan Konsumsi Ubi
Menurut Annisa, Ketua Program Studi Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi Sekolah Vokasi IPB University, ubi sangat baik dikonsumsi oleh penderita konstipasi (sembelit) karena kandungan serat pangannya yang tinggi.

Selain itu, ubi baik untuk penderita hipertensi karena kaliumnya membantu menurunkan tekanan darah. Bagi pengidap diabetes mellitus tipe 2, khususnya jika memilih ubi jalar dengan indeks glikemik rendah dalam porsi terkontrol, ubi bisa menjadi pilihan yang aman.

“Ubi juga membantu orang dengan imunitas rendah berkat vitamin A dan C yang memperkuat sistem kekebalan tubuh. Kandungan antioksidannya pun cocok untuk mereka yang berisiko penyakit kronis, seperti kanker dan penyakit jantung,” jelas Annisa.

Kelompok yang Harus Membatasi Konsumsi
Namun, Annisa mengingatkan ada beberapa kelompok yang harus mengurangi konsumsi ubi. Pertama, penderita gangguan ginjal terutama jika fungsi ekskresi kalium terganggu. Kedua, penderita sindrom iritasi usus karena oligosakarida dalam ubi bisa memicu gas, kembung, atau diare.

“Ketiga, orang dengan kadar gula darah sangat tidak terkendali. Keempat, penderita batu ginjal oksalat karena beberapa jenis ubi tinggi oksalat yang dapat memperburuk kondisi,” pungkasnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *