Kesehatan, BogorUpdate.com, Gorengan menjadi salah satu cemilan yang sangat digemari masyarakat Indonesia. Tidak heran, makanan ini banyak ditemukan di pinggir-pinggir jalan.
Namun, bagi sebagian orang, makanan ini selalu dihindari karena dianggap memicu kolesterol dari minyak goreng saat pengolahannya.
Tidak heran kalau Indonesia menjadi negara dengan konsumsi minyak goreng terbesar di dunia.
Sementara, banyak orang menyebut mengkonsumsi gorengan yang pengolahannya tidak sedikit yang menggunakan minyak jelantah, dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan kenaikan korestrol dan menyebabkan tenggorokan terasa gatal dan batuk.
Minyak jelantah sendiri tidak bisa dipakai lagi karena kualitasnya yang kurang baik dan tidak baik bagi kesehatan jika terus dipakai. Selain itu jangan buang minyak jelantanh sebarangan karena dapat merusak lingkungan.
Minyak jelantah yang dibuang pada saluran air mengakibatkan penyubatan saluran air. Teksur minyak jelantah yang lengket membuat kotoran-kotoran akan menempel dan lama-lama menumpuk mengakibatkan tersubatnya saluran air.
Jika membuang minyak jelantah pada tanah, tanaman disekitar tanah tersebut bisa mati dan menyebabkan pencemaran tanah.
Minyak jelantah tidak perlu dibuang dan dapat dimanfaatkan kembali. Salah satu caranya dengan dijadikan bio diesel.
Menurut badan Energi dan Sumber Daya Mineral minyak jelantah jika dikelola dengan baik akan memenuhi sekitar 32% kebutuhan bio diesel nasional dan dapat di pasarkan baik di dalam maupun luar negeri.
Bio diesel dari minyak jelantah dapat menghemat biaya produksi sebanyak 35% dibandingkan bio diesel dari CPO atau Crude Palm Oil. Serta bahkan mengurngi 91,7% emisi karbondioksida dibanding solar.
Kamu bisa mendapatkan uang dari menjual minyak jelantah di rumah ke agen pengumpul loh atau  bisa mendonasikannya ke komunitas yang mengelola minyak jelantah.(ayu/*)






