Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Sonny Keraf. (Tia)
Babakan Madang, BogorUpdate.com – Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Sonny Keraf, menyerukan perubahan sikap terhadap krisis lingkungan yang semakin mendesak. Seruan ini ia sampaikan dalam panel diskusi memperingati satu dekade Laudato Si, ensiklik Paus Fransiskus tentang perlindungan bumi, di Sentul, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jumat (5/9/25).
Menurut Sonny, perubahan perilaku harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari individu, sektor bisnis, hingga kebijakan pemerintah.
“Paus Fransiskus telah memperingatkan kita semua. Polusi udara, pencemaran air, limbah berbahaya, dan hilangnya mata air adalah tanda nyata jeritan bumi. Jika kita terus mengabaikan, maka dampaknya akan kembali kepada kita,” kata Sonny.
Ia memaparkan dampak krisis iklim yang makin kompleks, mulai dari kenaikan permukaan laut, badai ekstrem, kekeringan, banjir, gagal panen, hingga ancaman krisis pangan dan gizi buruk. Bagi Sonny, masalah ini tak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga mengarah pada ketimpangan sosial, konflik sumber daya, bahkan migrasi penduduk di wilayah pesisir.
“Perubahan iklim memengaruhi banyak sektor kesehatan, pekerjaan, perumahan, hingga stabilitas sosial. Jika seperempat populasi dunia tinggal di pesisir, bayangkan risikonya saat es kutub terus mencair,” lanjutnya.
Ia menekankan perlunya pendidikan ekologi sejak dini di sekolah, keluarga, maupun media, serta mendorong dunia usaha menerapkan model ekonomi sirkuler.
“Kita perlu paradigma baru: bukan lagi take-make-waste, tetapi take-make-cash yang lebih ramah lingkungan. Semua pihak pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha harus bergerak bersama,” tegasnya.
Sonny menutup seruannya dengan mengajak masyarakat melihat kelestarian alam sebagai syarat utama keberlanjutan hidup manusia, bukan sebagai beban. (Tia)









