Bendung Katulampa Sempat Siaga 3. (Abizar/Bogorupdate)
Kota Bogor, BogorUpdate.com – Tinggi Muka Air (TMA) Bendungan Katulampa, Kota Bogor, sempat mencapai status Siaga 3 pada Minggu pagi (18/1/26). Ketinggian air tercatat menyentuh 100 centimeter sekitar pukul 07.00 WIB, sebelum akhirnya berangsur menurun.
Petugas Bendungan Katulampa, Muhamad Alwan, mengatakan peningkatan debit air terjadi akibat hujan yang mengguyur wilayah hulu Sungai Ciliwung sejak Sabtu malam hingga dini hari.
“Air sempat mencapai 100 centimeter jam 7 pagi, itu titik tertinggi hari ini. Setelah jam 8, kondisinya mulai turun menjadi sekitar 80 centimeter,” ujar Alwan saat ditemui di Bendungan Katulampa.
Menurutnya, hujan di kawasan hulu berlangsung cukup lama dan merata. Curah hujan terpantau terjadi sejak tengah malam hingga sekitar pukul 04.00 WIB, sehingga menyebabkan peningkatan aliran air menuju Bendungan Katulampa.
“Di wilayah hulu hujan turun dari sekitar jam 12 malam sampai jam 4 pagi. Intensitasnya cukup memengaruhi debit air,” jelasnya.
Berdasarkan standar operasional, status Siaga 3 ditetapkan saat TMA mencapai 100 centimeter. Meski saat ini kondisi air sudah menunjukkan tren penurunan, pihak Bendungan Katulampa tetap mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim di wilayah hilir Sungai Ciliwung, dan warga Jakarta untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Warga di wilayah hilir bantaran kali ciliwung dimohon tetap siaga dan waspada, apalagi sekarang masih musim hujan,” kata Alwan.
Ia menambahkan, kondisi cuaca di kawasan hulu Puncak Bogor hingga Minggu pagi terpantau masih mendung merata. Kondisi tersebut berpotensi memicu kembali peningkatan debit air apabila hujan kembali turun dalam beberapa jam ke depan.
Katulampa terus melakukan pemantauan tinggi muka air secara berkala selama 24 jam. Informasi terbaru terkait perubahan status bendungan akan segera disampaikan kepada instansi terkait dan masyarakat apabila terjadi peningkatan signifikan.
Sebagai informasi, Bendungan Katulampa merupakan salah satu titik pemantauan utama aliran Sungai Ciliwung yang menjadi indikator potensi banjir bagi wilayah hilir, termasuk Jakarta. (Abizar)











