Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeNews

Antisipasi Wabah, Dinkes Kota Bogor Gelar Lokakarya Deteksi Dini Penyakit Zoonotik

×

Antisipasi Wabah, Dinkes Kota Bogor Gelar Lokakarya Deteksi Dini Penyakit Zoonotik

Sebarkan artikel ini

Kota Bogor, BogorUpdate.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor memperkuat sistem kesiapsiagaan menghadapi penyakit zoonotik atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia melalui penyelenggaraan lokakarya selama dua hari yang dimulai pada Selasa, 7 Juli 2026.

Kegiatan ini melibatkan tenaga kesehatan, instansi terkait, akademisi, insan pers, serta berbagai pemangku kepentingan guna membangun sistem deteksi dini dan respons cepat terhadap potensi wabah.

Lokakarya tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman penyakit zoonotik yang sewaktu-waktu dapat muncul.

Melalui penguatan koordinasi lintas sektor, pemerintah berharap penanganan kasus dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terintegrasi sebelum penyebaran penyakit meluas di masyarakat.

Ketua Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCI), Rizky Ka Syafitri, mengatakan kesiapsiagaan merupakan langkah paling penting dalam mencegah terjadinya wabah penyakit zoonotik.

“Tujuan kegiatan ini adalah bagian dari upaya kesiapsiagaan Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi penyakit-penyakit zoonotik yang menular dari hewan ke manusia dan berpotensi menjadi wabah. Persiapan harus dilakukan sebelum ada kasus maupun sebelum penyebaran terjadi,” ujar Rizky.

Menurutnya, edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu aspek penting dalam pengendalian penyakit. Masyarakat perlu mengetahui cara pencegahan, langkah yang harus dilakukan apabila menemukan kasus, hingga informasi mengenai fasilitas pelayanan kesehatan yang menyediakan pengobatan maupun vaksinasi.

“Yang paling penting adalah masyarakat tahu bagaimana mencegah, apa yang harus dilakukan jika terjadi kasus, ke mana harus berobat, dan di mana mendapatkan vaksin apabila diperlukan,” katanya.

Dalam lokakarya tersebut, sejumlah penyakit zoonotik menjadi perhatian utama, di antaranya rabies, flu burung, antraks, serta leptospirosis. Penyakit-penyakit tersebut dinilai memiliki potensi menimbulkan wabah apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Rizky menjelaskan, leptospirosis menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai terutama saat musim hujan karena penularannya dapat terjadi melalui air yang terkontaminasi urine tikus. Sementara itu, rabies, flu burung, dan antraks juga memerlukan pengawasan ketat mengingat tingkat penyebarannya yang cukup tinggi apabila tidak segera ditangani.

“Kalau tidak dipersiapkan sejak dini, ketika wabah terjadi semua akan gagap. Penularannya bisa berlangsung sangat cepat sehingga sistem harus dibangun lebih dulu agar semua sektor sudah siap ketika ada kasus,” jelasnya.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Dinas Kesehatan Kota Bogor bersama Portal Kesehatan Masyarakat (Porkesmas) yang tergabung dalam Pokja RCCI.

Kelompok kerja tersebut telah dibentuk sejak masa pandemi COVID-19 dan hingga kini terus berperan dalam memperkuat komunikasi risiko serta pelibatan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman kesehatan masyarakat.

Selain memperkuat kesiapsiagaan, Dinkes Kota Bogor juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi terkait penyakit menular.

Warga diimbau memperoleh informasi dari sumber resmi seperti portal RCCI, microsite informasi kesehatan, maupun layanan pemeriksa fakta kesehatan.

Di sisi lain, para peternak diminta segera melaporkan kepada petugas Kesehatan Hewan (Keswan) apabila menemukan kematian hewan secara mendadak, terutama dalam jumlah banyak.

Langkah tersebut dinilai penting agar investigasi dapat segera dilakukan dan potensi penyebaran penyakit ke manusia maupun hewan lainnya dapat dicegah.

“Kalau ada hewan mati mendadak dalam jumlah besar harus segera dilaporkan ke Keswan. Pengawasan terhadap peternakan juga terus dilakukan secara berlapis melalui monitoring rutin petugas,” ungkap Rizky.

Ia juga mengajak masyarakat dan insan pers untuk berperan aktif membantu pemerintah dalam mendeteksi potensi kasus di lapangan melalui pelaporan yang cepat dan akurat.

“Kalau ada kasus seperti itu dan tidak segera dilaporkan, risikonya bukan hanya ditanggung peternak, tetapi juga masyarakat luas. Karena itu warga maupun wartawan juga bisa ikut melaporkan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat,” pungkasnya. (Abizar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *