Kota Bogor, BogorUpdate.com – Bencana kekeringan yang melanda Desa Bantarsari, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, semakin meluas dan berdampak terhadap kehidupan masyarakat.
Sedikitnya sekitar 1.000 kepala keluarga (KK) yang tersebar di lima RW di Dusun Sawit mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat musim kemarau yang telah berlangsung sekitar dua bulan.
Kepala Desa Bantarsari, Lukmanul Hakim, mengatakan kekeringan tidak hanya terjadi di Dusun Sawit, tetapi juga mulai meluas ke sedikitnya empat wilayah lain di desanya, terutama kawasan yang berada di sekitar perkebunan kelapa sawit.
“Di Dusun Sawit ada lima RW dengan sekitar 1.000 KK yang terdampak kekeringan air. Kondisi ini sudah berlangsung sekitar dua bulan dan semakin dirasakan masyarakat,” ujar Lukmanul, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, perubahan fungsi lahan dari perkebunan karet menjadi perkebunan kelapa sawit diduga turut memengaruhi ketersediaan sumber air di wilayah tersebut.
“Dulu saat masih menjadi perkebunan karet, meskipun musim kemarau air masih melimpah. Namun setelah berubah menjadi perkebunan sawit, baru seminggu tidak turun hujan saja banyak sumur warga yang sudah mengering,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi serupa juga mulai dirasakan di sejumlah desa yang berbatasan dengan Bantarsari, seperti Desa Candali dan Desa Bantarjaya, yang sama-sama berada di kawasan perkebunan.
Distribusi Air Bersih Terus Dilakukan
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Pemerintah Desa Bantarsari bersama Desa Tangguh Bencana (Destana) terus menggandeng berbagai instansi pemerintah maupun lembaga kemanusiaan dalam penyaluran air bersih.
Lukmanul menjelaskan, bantuan pertama datang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor sebanyak dua tangki air bersih. Selanjutnya Balai Besar Wilayah Sungai (BWS) turut mengirimkan dua tangki air, disusul bantuan dari berbagai organisasi kemanusiaan.
“Hingga saat ini total sudah 17 tangki air bersih yang didistribusikan kepada warga. Hari ini ESQ kembali mengirimkan dua tangki air bersih sekaligus memberikan bantuan sembako dan santunan uang tunai bagi para lansia terdampak,” ujarnya.
Selain ESQ, bantuan juga datang dari DT Peduli, Al-Washliyah, Al-Gis, Baznas, Pemuda Pelopor, serta sejumlah organisasi sosial lainnya.
Menurut Lukmanul, distribusi air langsung ke masing-masing RW membuat masyarakat jauh lebih mudah memperoleh air bersih dibanding sebelumnya, ketika mereka harus berjalan cukup jauh dan mengantre untuk mendapatkan air.
“Dengan distribusi langsung ke setiap RW, masyarakat tidak lagi harus memikul air dari lokasi yang jauh sehingga kebutuhan sehari-hari bisa lebih terbantu,” ucapnya.
Siapkan Sumur Bor dan Fasilitas MCK
Selain penyaluran air bersih, Pemerintah Desa Bantarsari juga mulai menyiapkan solusi jangka panjang melalui pembangunan sumur bor dan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).
Beberapa lembaga kemanusiaan, kata Lukmanul, telah menyatakan kesediaannya membantu pembangunan sarana tersebut. Saat ini pemerintah desa bersama para relawan tengah melakukan survei untuk menentukan titik-titik yang paling membutuhkan.
“Kami berharap pembangunan sumur bor dan MCK ini menjadi solusi permanen sehingga masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan air bersih setiap musim kemarau,” ungkapnya.
Di sisi lain, pemerintah desa juga telah melakukan asesmen terhadap rumah-rumah yang sumurnya mengering, mengoptimalkan bak penampungan air, membuka posko pelayanan, serta terus berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan maupun Pemerintah Kabupaten Bogor.
“Kami mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila ada sumur yang mulai mengering agar bisa segera ditindaklanjuti,” katanya.
Warga Akui Sangat Terbantu
Salah seorang warga Dusun Sawit, Nawura, mengaku sumur di lingkungannya telah mengering selama sekitar dua minggu.
“Sumur di sini kebanyakan sudah kering, enggak ada air sama sekali. Kurang lebih sudah dua mingguan,” tuturnya.
Ia menjelaskan, sebelumnya air masih keluar meski dalam jumlah sedikit. Namun kini sumur benar-benar tidak lagi menghasilkan air.
Meski demikian, dirinya mengaku sangat terbantu dengan bantuan air bersih yang rutin disalurkan.
“Alhamdulillah sangat terbantu,” ujarnya.
Untuk kebutuhan mandi, warga masih memanfaatkan mata air yang debitnya terus menurun akibat musim kemarau.
“Kalau buat mandi masih ada sedikit dari mata air, tapi sekarang juga semakin kecil karena musim kemarau,” katanya.
Pemerintah Desa Bantarsari berharap sinergi antara pemerintah, relawan, dunia usaha, dan berbagai lembaga kemanusiaan dapat terus berlanjut hingga musim kemarau berakhir.
Di saat yang sama, pembangunan sumur bor dan fasilitas MCK diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan air bersih masyarakat, sehingga persoalan kekeringan yang terjadi hampir setiap tahun dapat diminimalkan. (Abizar)












