Pendidikan, Bogorupdate.com
Menyadari pentingnya hal tersebut, Aliansi Kebangsaan, Forum Rektor Indonesia (FRI) dan IPB University menggelar Diskusi Publik dengan tema Penguasaan dan Pengembangan Inovasi Teknologi untuk Ketahanan Pangan Nasional, Selasa (25/2/20) di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, Bogor.
“Harus kita akui indeks ketahanan pangan kita masih di urutan kelima di Asia Tenggara. Saat ini, usia petani kita berada pada angka 47 tahun. Kalau ini tidak diatasi, sepuluh tahun ke depan, siapa yang akan menjadi petani? Itulah yang mendasari IPB University membuat berbagai langkah dan program untuk mengatasi masalah tersebut,” ujar Prof Arif Satria.
Prof Arif menyebutkan, saat ini transformasi menjadi penting untuk dilakukan. Baik pemerintah, perguruan tinggi, swasta dan lembaga swadaya masyarakat harus turut berperan dalam menjembatani tersampaikannya informasi dan teknologi kepada masyarakat luas. Dengan demikian proses transformasi teknologi dapat dirasakan oleh masyarakat khususnya petani.
“Salah satu upaya yang sedang dilakukan saat ini adalah IPB University bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang mengembangkan program One Village One CEO. Saat ini IPB University mendampingi 53 desa di Jawa Barat yang kita coba untuk transformasi smart farming,” terang Prof Arif.
Senada dengan Prof Arif, Ketua Aliansi Kebangsaan, Pontjo Sutowo, menyampaikan ketahanan pangan sudah seharusnya menjadi kepentingan utama Indonesia yang perlu terus diperjuangkan. Setidaknya ada dua hal yang menurutnya perlu dilakukan, pertama penguasaan dan pengembangan inovasi teknologi.
“Dalam hal pemanfaatan teknologi untuk pertanian dan ketahanan pangan, kita bisa lihat pengalaman Ethiopia yang dulu merupakan salah satu negara dengan tingkat kemiskinan tertinggi di dunia. Namun saat ini, dengan bantuan teknologi Israel, Ethiopia telah menjadi surga pertanian,” tutur Pontjo.
Pontjo melanjutkan, berdasarkan Global Food Security Index (GFSI) pada tahun 2017, Ethiopia berada di urutan ke-12 sebagai Negara Adidaya Pertanian dan Ketahanan Pangan, satu peringkat di bawah Amerika Serikat.
Hal kedua yang disampaikan oleh Pontjo adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat. Hal ini penting dilakukan untuk mengatasi berbagai hambatan kultural yang sering dihadapi dalam penerapan teknologi di masyarakat. Pemberdayaan masyarakat juga bisa membuka ruang-ruang pengembangan inovasi teknologi semakin luas dan merata sehingga pembangunan ekonomi berkelanjutan bisa terwujud di masyarakat.
Pada kesempatan ini, juga dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara IPB University dengan Universitas Negeri Gorontalo. Kerjasama tersebut meliputi pendidikan, penelitian, peternakan, perikanan dan pengabdian kepada masyarakat.
Menteri Pertanian Republik Indonesia (RI), Dr Syahrul Yasin Limpo, SH, MH yang turut hadir, menyampaikan bahwa pertanian adalah sebuah gerakan bersama, yang berkaitan dengan kebutuhan dan keutuhan sebuah negara, serta gengsi sebuah negara. Sehingga pertanian tak hanya menjadi program pemerintah saja, namun juga tanggung jawab seluruh elemen bangsa.
“Kita sudah tidak bisa lagi mengatasi masalah pertanian dengan cara kemarin. Banyak paradigma yang sudah bergeser dan membutuhkan cara-cara baru. Kita harus pakai online system, digital system, frequency system, transmission system dan mekanisasi baik artificial intelligence, internet of thing, atau robotic system. Kalau begitu, kehadiran IPB dan perguruan tinggi sangat penting. IPB harus ada di setiap desa, kampus pertanian harus ada disetiap tiap daerah minimal ilmunya bisa berguna di desa,” ujar Menteri Pertanian RI.
Dalam acara ini juga menghadirkan para pembicara, Prof Dr Ir Aman Wirakartakusumah, MSc, (Ketua Komisi Ilmu Rekayasa Teknologi Pangan Akademisi Ilmu Pengetahuan Indonesia/AIPI), Prof Dr Ir Slamet Budijanto, Magr, (Guru Besar Fateta IPB), Adhi Lukman, (Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia/GAPMMI), serta Ahmad Arif, jurnalis dari media Kompas yang menjadi pembahas dalam kegiatan Diskusi Publik ini. (Hms IPB/End)






