Sukaraja, BogorUpdate.com
Pelayangan hak jawab yang diutarakan kepala Desa Cijujung, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, dengan memberikan mobil siaga ke setiap ketua RW di wilayah tersebut, kini menuai pro dan kontra.
Pasalnya, salah satu ketua RW yang enggan menerima bantuan mobil siaga itu dari pemimpinnya tersebut, mulai angkat bicara.
Ia menuturkan, untuk pemberian satu unit mobil siaga ke setiap pengurus RW di Desa Cijujung oleh kepala desa itu banyak persoalan. Mulai dari kepala desa, yang meminta agar setiap pengurus ketua RW yang mengambil armada transportasi bagi kepentingan masyarakatnya itu agar melakukan perawatan secara rutin serta menggunakan satu supir pribadi dari mobil siaga tersebut.
“Khusus di ketua RW saya sendiri, saya tidak mengambil mobil siaga itu. Karena banyak yang memberatkan masyarakat saya jika kami menerima bantuan armada tersebut,” ujarnya salah satu ketua RW yang enggan disebutkan namanya kepada Bogorudate.com, Kamis (07/5/2020) malam.
Ia menjelaskan, pemberatan kepada masyarakat itu yakni setiap ketua RW yang menerima manfaat mobil siaga desa itu, sang kades menyarankan agar selalu menyiapkan anggaran sebesar Rp3,5 juta perbulannya untuk biaya perawatan mobil siaga itu.
“Jadi kami diminta minimal siapkan 3,5 juta saran dari kades kami itu untuk biaya perawatan mobil tersebut selama digunakan, serta pembiayaan untuk supir pribadi dari angkutan tersebut,” bebernya.
Adapun, sambungnya, perihal program kades Cijujung Wahyu Ardianto yang memberikan ratusan unit lampu ke setiap wilayah RW se-Desa Cijujung pun menjadi soal.
Contohnya, di wilayah RW nya yang kebagian memperoleh 10 unit jalan penerangan dari pimpinannya itu hanya sekedar bantuan lampu saja, tanpa memberikan bantuan dana pemasangan kepada setiap RW.
“Bayangkan saja, setiap unit lampu kami pengurus RW harus mengadakan dana untuk biaya pembelian kabel dan MCB lampu sebesar Rp150 per unit lampu dikalikan 10 lampu, dan belum lagi biaya pemasangan bagi pihak yang melakukan pemasangan lampu. Jadi itu lah yang tidak difikirkan oleh kades kami yang baru, hanya memberi tanpa memfikirkan biaya pembelian kabel dan lainnya,” tegasnya.
Selain itu, masih kata dia, penolakan dirinya sebagai ketua RW untuk menerima bantuan mobil siaga itu yaitu, saat dirinya menanyakan apabila Kepala Desa Cijujung, Wahyu Ardianto sudah tidak menjabat sebagai orang nomor satu di wilayah tersebut, apakah mobil siaga itu akan menjadi milik aset desa atau bagaimana.
“Jawabannya, tidak lah kan itu mobil saya. Kalau saya tidak menjadi kepala desa lagi saya ambil kembali. Gitu jawaban dari pak kades sewaktu saya tanyakan perihal tersebut. Dan hal ini juga saya enggan mengambil bantuan mobil siaga tersebut, serta ada 3 ketua RW dari 14 RW yang enggan menerima bantuan ini,” pungkasnya.
Sebelumnya, dalam pelayangan hak jawab yang dilayangkan kepala desa terkait pungutan ke setiap pelaku usaha yang berada di wilayah Desa Cijujung, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Wahyu Ardianto menuturkan.
“buat apa saya mengambil kesempatan ini untuk minta-minta ke pelaku usaha di wilayah Desa Cijujung, saya sendiri saat baru dilantik menjadi kades disini langsung membeli 14 unit jenis suzuki APV untuk mobil siaga bagu seluruh ketua RW se-Desa Cijujung dengan menghabiskan uang saya pribadi senilai Rp1,2 milyar kurang lebihnya,” tutupnya. (Rul)
Editor : Endi






