Bogor, BogorUpdate.com, Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Jawa Barat akan menggadakan Indonesian Climbing Festival (ICF) 2025, yang rencananya digelar di tebing Citatah, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat pada 15-16 November 2025.
ICF 2025 ini digelar sebagai salah satu upaya FPTI Jawa Barat memperkenalkan dan mempromosikan olahraga panjat tebing kepada masyarakat.
Ketua FPTI Jawa Barat Djati Pranoto yang didampingi Dewan Penasehat FPTI Asep Fahrudin mengatakan, festival ini dikemas dalam format outdoor, dan rencananya akan dihadiri pemanjat dari berbagai daerah, di Indonesia, termasuk Asia Tenggara.
“Selain panjat tebing, festival ini juga diisi oleh sharing session atau talkshow, workshop, Camping and Entertainment yang bertujuan,” kata Djati, Rabu (22/10/2025).
Menurut Djati, rangkaian acara ini menjadi sebuah platform inklusif yang dapat diakses oleh semua orang, tanpa memandang latar belakang atau tingkat pengalaman mereka dalam panjat tebing.
Djati juga mengatakan, FPTI Jawa Barat sebelumnya sukses menyelenggarakan Road to Indonesia Climbing Festival pada 2024, yang juga persiapan dan pemanasan ICF 2025.
“Melalui serangkaian kegiatan yang menyenangkan, kompetitif, dan edukatif, Indonesia ICF 2025 siap menyambut para pencinta alam untuk bersama-sama mempelajari lebih banyak, terhubung dengan komunitas, dan berkompetisi dalam suasana yang mendukung pertumbuhan dan kolaborasi ini,” terang Djati.
Bukan hanya itu, ICF 2025 ini juga menjadi bagian untuk memperkenalkan Tebing 125 Citatah, dan tebing lainnya sebagai destinasi panjat tebing.
“Tebing ini sangat potensial bagi wisatawan lokal dan internasional,” terang Djati.
Menurut Djati, ICF 2025 bukan hanya sekadar kegiatan saja, tetapi menjadi sebuah perayaan besar bagi pecinta panjat tebing dan olahraga petualangan.
“Bukan hanya sebagai ajang adu keterampilan, tetapi juga sebagai wadah untuk berkumpul, belajar, dan menginspirasi satu sama lain dalam semangat kebersamaan,” tambah Djati.
ICF 2025 ini terbuka untuk semua kalangan, mulai dari pemula yang baru ingin mencoba, komunitas pelajar dan mahasiswa pencinta alam (Mapala dan Sispala), hingga atlet profesional yang siap menguji batas kemampuan,” imbuh Djati.***
