Ilustrasi kayu ramah lingkungan. (Dok. IPB)
Bogor, BogorUpdate.com – Komposit merupakan material gabungan yang dirancang untuk menghasilkan sifat lebih kuat dan stabil. Dalam industri kayu, komposit banyak digunakan untuk panel seperti kayu lapis, oriented strand board (OSB), medium density fiberboard (MDF), dan papan partikel yang kini masih bergantung pada perekat berbasis formaldehida dan isosianat yang berisiko bagi kesehatan dan lingkungan.
Menjawab persoalan tersebut, peneliti IPB University mengembangkan komposit kayu aman dan ramah lingkungan. Topik ini merupakan salah satu inovasi terpilih dalam ajang 117 Inovasi Indonesia 2025 yang diselenggarakan Business Innovation Center (BIC).
Riset ini dikembangkan oleh Dr Rita Kartika Sari, dosen Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan bersama tim dari IPB University, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Universitas Lampung.
Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 menunjukkan, produksi kayu bulat terbesar kedua di Indonesia berasal dari genus akasia, khususnya kayu mangium (Acacia mangium) yang mencapai 42,52 persen dari total kayu bulat nasional atau sekitar 27,57 juta meter kubik.
Dalam prosesnya, sekitar 10 persen volume tersebut berupa kulit kayu, sehingga menghasilkan kurang lebih 2,7 juta meter kubik limbah setiap tahun. Jumlah yang besar ini menyimpan potensi kimia hijau bernilai tinggi, karena kulit mangium kaya tanin yang dapat diolah menjadi bahan baku industri berkelanjutan.
“Dari potensi itu, lahir teknologi sintesis dan formula resin bio-poliuretan non-isosianat berbasis tanin kulit kayu mangium sebagai perekat kayu bebas formaldehida,” terang Dr Rita melansir laman IPB, Kamis (5/3/26).
Selama ini, ia mengungkap, industri panel kayu bertumpu pada resin urea-formaldehida dan fenol-formaldehida yang berpotensi melepaskan emisi formaldehida, atau poliuretan berbasis isosianat yang reaktif dan berisiko bagi pekerja.
“Melalui modifikasi tanin kulit mangium menjadi biopoliol, sistem ini menggantikan poliol berbasis petrokimia. Proses berlangsung pada suhu moderat sekitar 80°C dengan tahapan relatif sederhana menggunakan dimetil karbonat dan heksametilentetramina sebagai pembentuk jaringan polimer yang lebih aman dan rendah risiko,” jelasnya.
Formula perekat dioptimasi menggunakan response surface methodology. Hasilnya, resin memiliki kadar padatan 58,16 persen, waktu gelatinasi sekitar 1,07 menit, serta kestabilan termal dan ketahanan air yang baik. Perekat ini berpotensi digunakan untuk pembuatan komposit kayu seperti OSB, MDF, kayu lapis, dan papan partikel.
Di tengah dorongan menuju ekonomi sirkular dan target Net Zero Emission 2060, inovasi ini menunjukkan bahwa riset berbasis sumber daya alam nasional mampu melampaui fungsi tradisionalnya.
“Hutan tropis Indonesia tidak hanya menyediakan kayu, tetapi juga fondasi material maju yang lebih aman dan berkelanjutan. Dari biomassa lokal, kita dapat membangun industri yang mandiri sekaligus rendah emisi,” pungkas Dr Rita. (**)
