
BOGORUPDATE.COM – Ikatan mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Bogor mengadakan perkaderan Latihan Istruktur Dasar Nasional dengan tema “Menumbuhkan Ghirah Perkaderan dalam Upaya Tercipatanya Insan yang Unggul dan Berkompetensi.” Rabu-sabtu 11-14 September 2019.
Instruktur merupakan ruhnya IMM, dilahirkan dengan perkaderan formal dan berjenjang meliputi LID (Latihan Instruktur Dasar), LIM (Latihan Instruktur Madya), LIP (Latihan Instruktur Paripurna), artinya tingkatan Dasar, menengah sampai paripurna. Pada kesempatan kali ini, kader IMM berjumlah 30 peserta mengikuti Latitah instruktur dasar di Bogor dari berbagai daerah mulai dari Jakarta sampai Palembang.
Ketua umum PC IMM Bogor Arfiano mengungkapkan, dirinya Sepakat Instruktur adalah rahimnya kaderisasi. “Instruktur merupakan rahimnya kaderisasi, sehingga kuantitas dan kualitas kader IMM bergantung pada penggemblengan kaderisasi Instruktur, baik secara formalitas maupun non formalitas yang menyangkut pada militansinya kader,” terangnya.
Pedoman Instruktur ada tiga, diantaranya SPR (Sistem perkaderan Rosulullah), SPM (Sistem perkaderan Muhammadiyah), dan SPI (Sistem perkaderan Ikatan) seluruhnya ditambah dengan materi-materi pendukung kebutuhan seperti micro teaching, psikologi kader dan design perkaderan.
Pertama dengan Sistem perkaderan Rosulullah, IMM sepakat untuk menjadi Instruktur sebagai rahimnya kader, Instruktur harus paham mengenai perkaderan Rosulullah guna rangka berpikir Instruktur menganut rangka berpikir Rosulullah yang pada akhirnya panutan umat Islam dan seluruh alam.
Kedua sitem perkaderan Muhammadiyah pun dibahas dengan konprehensif, memang sebetulnya merujuk pada Sistem perkaderan Rosulullah, akan tetapi Sistem perkaderan Muhammadiyah menerapkan sesuai tantangan zaman itu sendiri.
Ketiga sistem perkaderan Ikatan adalah Sistem yang merujuk pada sistem perkaderan Rosulullah dan Muhammadiyah, yang kemudian diterjemahkan pada keadaan Mahasiswa itu sendiri guna relevan dan dedikasinya dipahami oleh kalangan kaum intelektual muda.
Terpisah, Rofhiatul Aisy sebagai Instruktur Nasional mengungkapkan bahwa SPI bukan barang baku, namun sewaktu-waktu akan terus berubah sesuai tantang zaman. “SPI bukanlah barang baku, karena dengan lahirnya kembali Instruktur-instruktur merupakan keniscayaan yang kemudian sama-sama menafsirkan zaman yang harus direspon dengan tepat agar SPI bisa relevan dan mewujudkan kader yang berkualitas,” Katanya.
Setelah usai penggemblengan peserta Instruktur dari tanggal 11-15 september 2019, Pimpinan cabang IMM mengajak studi ke museum kepresidenan, tujuannya adalah untuk membangkitkan jiwa Nasionalisme kader IMM. Karena kita lagi-lagi persolannya adalah keselamatan Indonesia yang membutuhkan generasi muda yang cakap dan mampu menerjemahkan yang kemudian membangun karya untuk bangsa ini.
Iksan Awaludin, sebagai ketua pelaksana menegaskan bahwa instruktur merupakan pondasi perkaderan. “Instruktur adalah pondasinya. Maka dari itu para peserta latihan instruktur dasar nasional cabang Bogor harus mampu memberikan output terhadap daerah nya masing-masing dan tidak gagap lagi dalam menjawab dinamika perkaderan, mulai dari sekarang kita siapkan kader-kader terbaik untuk menyambut indonesia emas,” Pungkasnya. (End/Iksan)
Editor : Endi







