Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeNewsPendidikan

Miliki Produktivitas Tinggi, Kementan Beli Benih Padi IPB 3S Senilai Rp250 Miliar

×

Miliki Produktivitas Tinggi, Kementan Beli Benih Padi IPB 3S Senilai Rp250 Miliar

Sebarkan artikel ini

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. (Abizar/Bogorupdate)

Kota Bogor, BogorUpdate.com – Kunjungan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman ke Institut Pertanian Bogor (IPB) bukan sekadar agenda seremonial. Di balik kunjungan tersebut, tersimpan langkah konkret pemerintah dalam memperkuat sektor pertanian nasional melalui dukungan terhadap inovasi anak bangsa.

Dalam keterangannya kepada wartawan, Amran mengungkapkan bahwa IPB menjadi salah satu prioritas kunjungan karena memiliki banyak inovasi unggulan yang siap diterapkan secara luas. Ia juga menekankan bahwa kerja sama antara Kementerian Pertanian dan IPB bukanlah hal baru, melainkan sudah terjalin sejak sekitar satu dekade lalu, tepatnya sejak 2016-2017.

Salah satu inovasi yang menjadi sorotan adalah benih padi IPB 3S beserta turunannya. Varietas ini dinilai memiliki produktivitas tinggi, bahkan mampu mencapai 9 hingga 11 ton per hektare. Angka tersebut jauh di atas rata-rata produksi nasional yang masih berada di kisaran 5,5 hingga 6 ton per hektare.

Melihat potensi besar tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) langsung mengambil langkah nyata dengan melakukan pembelian benih padi IPB senilai Rp250 miliar. Menurut Amran, langkah ini merupakan bentuk penghargaan pemerintah terhadap hasil riset para peneliti dalam negeri.

“Ini bentuk penghargaan kami kepada para peneliti Indonesia, termasuk IPB. Produk riset yang berdampak langsung bagi masyarakat harus kita dukung,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa pemerintah tidak hanya bekerja sama dengan IPB, tetapi juga dengan sejumlah perguruan tinggi lain seperti Universitas Hasanuddin (Unhas), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Andalas. Berbagai hasil penelitian yang dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi sektor pertanian telah dibeli dan mulai dikembangkan dalam skala besar.

Tidak berhenti pada komoditas padi, Kementerian Pertanian juga tengah merancang pengembangan komoditas lain seperti bawang putih. Salah satu fokusnya adalah memperpendek masa dormant atau masa istirahat tanaman yang saat ini mencapai enam bulan.

“Kami minta kalau bisa masa dormant bawang putih dipersingkat menjadi dua bulan, bahkan satu bulan. Ini akan sangat membantu meningkatkan produksi nasional,” jelasnya.

Selain itu, komoditas lain seperti tapioka dan kopi juga menjadi bagian dari rencana pengembangan ke depan. Pemerintah menargetkan kerja sama yang terjalin tidak lagi dalam tahap uji coba, melainkan langsung diterapkan dalam skala besar agar dampaknya bisa segera dirasakan masyarakat.

Di sisi lain, Amran juga menyoroti kondisi harga kedelai yang mengalami kenaikan. Ia mengingatkan para importir agar tidak mengambil keuntungan berlebihan di tengah situasi global yang tidak menentu.

“Kami sudah minta importir jangan mengambil keuntungan besar. Jangan sampai membebani masyarakat yang membutuhkan kedelai,” tegasnya.

Pemerintah pun tidak menutup kemungkinan akan melakukan evaluasi terhadap izin impor jika ditemukan praktik yang merugikan masyarakat. Hal serupa juga disampaikan terkait kenaikan harga kemasan plastik untuk produk pertanian.

Menurut Amran, kondisi saat ini seharusnya menjadi momentum bagi semua pihak, termasuk pelaku usaha, untuk menunjukkan kepedulian terhadap kepentingan nasional.

“Selama ini sudah banyak keuntungan yang didapat. Sekarang saatnya kita bersama-sama menjaga agar masyarakat tidak terbebani,” ujarnya.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap sektor pertanian Indonesia semakin kuat, mandiri, dan mampu menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang. (Abizar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *