Bogor RayaHomePolitik

Nyalon Wawalkot Bogor, Hary Arra Komitmen Jaga Kearifan Budaya Sunda

Kota Bogor – Bogor Update

Tak lama lagi, masing-masing kandidat bakal calon Wali Kota dan Wakil Walikota Bogor yang akan ikut pertarungan Pilwalkot 2018 akan mendapat rekom dari partainya masing-masing.

Hary Arra salah satunya, bakal calon Wakil Walikota dari partai Gerindra itu mengaku berkomitmen akan menjaga kearifan budaya sunda.

Ia mengatakan, siapa pun yang akan di rekomendasi dan memimpin kota Bogor ke depan harus memegang teguh nilai nilai karuhun di tataran pasundan.

“Silih asah, silih asih, silih asuh merupakan satu istilah yang lahir dari kearifan masyarakat sunda,” kata Hary Arra, Senin (11/12/17).

Menurut politisi yang juga anggota Tim Percepatan pelaksanaan Priorotas Pembangunan (TP4 Kota Bogor) tersebut, istilah itu tidak asing bagi masyarkat sunda karena telah menjadi falsafah hidupnya termasuk dirinya yang tinggal di kota Bogor.

“Silih asah, silih asih, silih asuh bukanlah bahasa kuno peninggalan sejarah. Tetapi merupakan falsafah bagi kehidupan orang sunda yang harus terus dibumikan dimanapun dan kapanpun,” ujarnya.

Keutamaan dari falsafah itu kata dia, merupakan satu kesatuan sikap, nilai dan rukun hidup yang harus dijiwai oleh masyarakat dalam menjalakan kehidupannya demi terwujudnya masyarakat yang kuat, cerdas, egaliter dan saling menebar cinta kasih sesamanya.

Silih asah tambah dia, berarti saling memberi pengetahuan, baik dengan cara saling mengingatkan saling membangun kesadaran akan ilmu pengetahuan dan saling mendukung dalam pengembangan diri sesamanya.

“Ini demi terbentuknya satu kesatuan masyarakat yang cerdas. Sebuah masyarakat yang cerdas merupakan satu syarat terbentuknya masyarakat yang kuat, tanpa kecedasan dan kesadaran akan ilmu pengetahuan,  masyarakat akan kehilangan hakikat dan kemerdekaannya sebagai manusia sehingga masyarakat akan mudah untuk dibodohi,didiskriminasi dan dieksploitasi,” tuturnya.

Sementara, semangat silih asah tambah Harry, merupakan semangat membangun dan menumbuhkembangkan khazanah keilmuan.

“Dalam masyarat yang menjiwai rukun hidup silih asah, ilmu pengetahuan akan berdampingan dengan dimensi etis sehingga ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi alat penindasan yang angkuh tetapi ilmu pengetahuan akan menjelma menjadi anggun yang akan membebaskan dan mengangkat derajat masyarakat dari keterbelakangan,” jelas dia.

Masih kata dia, untuk kata silih asih, berarti saling menebar cinta kasih atau rasa saling menyayangi. Tentulah harus menjadi falsafah yang mendarah daging bagi masyarakat sunda.

“Silih asih merupakan salah satu bentuk ikhtiar interaksi manusia dengan Tuhan demi mendapat cinta kasih-Nya, dengan cara menyayangi sesamanya. Semangat silih asih merupakan semangat membumikan nilai-nilai ketauhidan,” tambahnya.

Alasannya, karena dalam budaya silih asih tertancap kuat prinsip ketuhanan dan kemanusiaan. Yang nantinya akan membentuk mental masyarakat yang menjungjung tinggi nilai-nilai persamaan.

Masyarakat kota Bogor yang silih asih dalam prakteknya akan saling menghormati satu sama lain serta akan menjungjung tinggi nilai persamaan dengan tidak menganggap adanya kelas sosial.

Diakuinya, semua manusia sama, tidak ada yang dipandang sempurna dan tidak ada manusia yang seluruhnya cela. Dari semangat silih asih inilah maka akan melahirkan kehidupan masyarakat yang adil, harmonis serta jauh dari tindakan-tindakan yang anarkis.

“Dengan ajaran karuhun ini, jika dipegang teguh ketika memimpin niscaya akan amanah memimpin kota hujan 5 tahun ke depan,” pungkasnya. (As)

 

Editor: Endi

Exit mobile version