
BogorUpdate.com – Tiga bulan terakhir, warga Bekasi dan Cileungsi mengeluhkan bau tak sedap yang bersumber dari sungai Cileungsi. Selain mengeluarkan bau, warna sungai juga berubah menjadi hitam pekat yang diduga bersumber dari limbah pabrik dipinggiran sungai Cileungsi.
Pencemaran sungai Cileungsi sudah mendapat perhatian dari berbagai pihak mulai dari Aktifis, DPR RI hingga KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) namun semua itu seolah hanya isapan jempol semata sebab hingga saat ini sungai tetap tercemar.
Sejumlah pihak mecurigai adanya pembiaran dari pihak terkait sehingga pencemaran sungai Cileungsi masih terjadi. Warga yang tinggal di bantaran sungaipun sudah mulai terlihat pasrah sebab mereka tidak tau harus berbuat apa dan harus mengadu kemana.
Menurut penjelasan sejumlah warga Cileungsi bahwa pencemaran sungai sudah tergolong lama, kebetulan saat ini musim kemarau dan debit air sedang mengecil sehingga kelihatan, kalau debit air sedang tinggi keadaan sungai seolah normal-normal saja.
Akibat berlarut-larutnya pencemaran sungai Cileungsi membuat pihak Ombudsman RI melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak, hal itu diketahui dari Aktifis PKLP (Pemerhati Kebijakan dan Layanan Publik).
“Ia kami dipanggil Ombudsman RI perwakilan Jakarta Raya untuk dimintai keterangan terkait pencemaran disungai Cileungsi,” ungkap Maraja Manalu selaku Ketua Umum PKLP sambil memperlihatkan surat yang dia terimanya dari Ombudsman RI pada Minggu (7/10/2018).
Dalam surat tersebut tertulis, berdasarkan pasal 6 Undang-Undang No. 37 Tahun 2008 Tentang Ombudsman RI, Ombudsman RI berfungsi mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh Penyelenggara Negara dan pemerintah baik dipusat maupun Daerah termasuk dibidang Lingkungan Hidup.
Dalam rangka melaksanakan fungsi tersebut, Ombudsman RI Perwakilan Jakarta Raya secara insiatif hendak menindaklanjuti dugaan Maladministrasi dalam pengawasan oleh DLH Kab. Bogor.
“Kami akan hadiri panggilan dari Ombudsman RI, saya juga akan minta agar DLH Kab. Bogor diperiksa dan diaudit. Perusahaan mana saja yang diawasi oleh DLH dan apa hasil pemeriksaanya,” kata Manalu.
Dia juga menambahkan, kalau ada kemauan dan kejujuran dari pihak yang melakukan penyelidikan tentang pencemaran sungai Cileungsi, pasti terungkap, pabrik mana saja yang membuang limbah ke sungai Cileungsi pasti ketahuan.
“Saya sudah melakukan penelusuran bahwa di Jembatan Wika kondisi air masih jernih, bahkan warga disana juga masih terlihat ada yang mencari ikan di sungai. Namun kalau kita lihat di Jembatan Cileungsi kondisi air sudah bau dan berwarna hitam pekat, warga yang mencari ikan juga sudah gak ada disitu karena ikannya pada mati. Dari Jembatan Wika ke Jembatan Cileungsi jaraknya tidak jauh ko dan tinggal melihat pabrik apa saja yang ada disitu lalu periksa, kan gampang,” tutur Manalu. (Eft/Mar)
Editor : Tobing






