Cariu, BogorUpdate.com – Puluhan rumah warga di Kampung Palahrar RT 05, RW 04, Desa Kutamekar, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, terancam akibat abrasi hebat yang terjadi di aliran Sungai Cibeet.
Hingga kini, belum ada penanganan konkret dari pihak terkait, sementara kondisi di lapangan semakin mengkhawatirkan.
Salah satu warga, Pipin Kurniawan, pemilik rumah yang sebagian sudah hancur akibat tergerus air, menceritakan bahwa abrasi ini sudah terjadi sejak 4 Maret 2025 dan terus memburuk setiap kali banjir datang.
“Awalnya dari Maret, tapi makin parah setelah banjir tanggal 26 Oktober sekitar pukul 21.00 WIB dan 28 Oktober sekitar pukul 02.45 WIB. Saat itu saya baru bangun menjelang subuh, ternyata tanah di belakang rumah sudah habis terkikis air. Sejak Maret rumah ini saya kosongkan karena takut, apalagi saya baru sembuh dari sakit,” ucap Pipin kepada Bogorupdate.com, Kamis (30/10/25).
Selanjutnya Ia menuturkan, beberapa pihak memang sempat meninjau lokasi, termasuk dari BPBD Kabupaten Bogor dan BBWS Citarum sekitar empat bulan lalu. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut atau pembangunan penahan tebing.
“Waktu itu mereka datang sampai malam, sempat buat RAB, tapi setelah itu belum ada kelanjutan. Saya berharap pemerintah bisa cepat tanggap, karena kalau dibiarkan bisa makin banyak rumah yang kena abrasi. Sekarang saja sudah ada tiga rumah yang nyaris ambruk,” ungkapnya.
Selain mengancam pemukiman, abrasi Sungai Cibeet juga mulai menggerus area pertanian warga. Sejumlah sawah sudah terkikis air dan dikhawatirkan tidak bisa ditanami lagi bila tidak segera ditanggulangi.
Sementara itu, Pj Camat Cariu, Agus Sopyan Budi Asmara, membenarkan bahwa abrasi di wilayah tersebut sudah berlangsung cukup lama. Ia menjelaskan, peristiwa banjir bandang pada bulan Ramadan lalu memperparah kondisi bantaran sungai.
“Waktu itu hujan turun dua hari berturut-turut, debit air naik, dan badan sungai Cibeet yang lebarnya sekitar 30 meter meluap hingga ke permukiman. Jarak rumah warga dari bibir sungai hanya sekitar 20 meter, bahkan ada kandang sapi yang sudah hanyut,” ungkap Agus Sopyan.
Pihaknya bersama unsur Muspika Cariu sudah berkoordinasi dengan BPBD dan BBWS untuk melaporkan kondisi terkini. Warga berharap segera dibangun turap atau tanggul penahan, agar aliran sungai tidak langsung menghantam pemukiman.
“Kami sudah laporkan kembali ke BBWS dan BPBD. Harapan kami sama dengan warga, agar segera dibangun turap supaya arus sungai bisa dipecah dan tidak mempercepat abrasi,” pungkasnya.
Kini, sekitar 25 rumah warga masih dalam kondisi terancam, dan warga hanya bisa berharap agar pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan sebelum kerusakan semakin meluas. (Gus)
