Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaLifestyle

Sektor Pertanian Menjanjikan dan Akan Tetap Eksis Ditengah Pandemi

×

Sektor Pertanian Menjanjikan dan Akan Tetap Eksis Ditengah Pandemi

Sebarkan artikel ini

Dr Sofyan Sjaf

Lifestyle, BogorUpdate.com
PT Bogor Life Science and Technology (BLST) IPB University mengadakan Preneurs Talks bertemakan Agrosociopreneur: Menyongsong Potensi Pertanian untuk Masa Depan, Pada Kamis (13/7/20). Hadir sebagai pemateri, Dr Sofyan Sjaf, Komisaris IPB Training, Baban Sarbana, Direktur PT Bina Tempe Makmur, Sujimin, Inventor Pertanian dan Majid Siregar, Duta IPB University.

Dr Sofyan dalam paparannya mengatakan, bangsa Indonesia memerlukan pendekatan-pendekatan yang revolusioner sehingga mampu menjawab persoalan yang terjadi. Peran pemuda di dalamnya sangat diperlukan. Menurutnya, agri sociopreneur merupakan pendekatan yang tepat dalam melihat Indonesia yang sesungguhnya.

“Ada dua tokoh bangsa yang perlu kita cermati. Pertama, Presiden Soekarno yang mengatakan bahwa persoalan hidup mati bangsa adalah pangan. Kedua, Prof Sajogyo, Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia, yang mengatakan, kalau anda ingin membangun bangsa ini, maka perhatikanlah struktur bangsa dibangun dari mana,” ujar Dr Sofyan.

Lebih lanjut Dr Sofyan mengatakan, jika kita ingin membangun bangsa ini maka bangunlah sektor pangan alias pertanian. Juga dengan melihat bagaimana struktur Indonesia dibangun dari struktur dari unit terkecil, yaitu desa. Berdasarkan hasil riset terakhirnya, teridentifikasi bahwa 74,13 persen desa di Indonesia bergerak dan bergantung pada sektor pertanian.

Dampak adanya pandemi memang secara umum membuat pertumbuhan ekonomi menjadi negatif. Namun jika diuraikan lebih dalam, sektor pertanian juga terbukti menjadi sektor yang mampu bertahan dan menunjukkan pertumbuhan yang positif saat menghadapi pandemi COVID-19, di saat sektor lain justru berada pada kondisi memprihatinkan.

“Kalau kita ingin mencermati semua ini, sudah terbukti dengan adanya pandemi, saat berbagai negara mulai kolaps, ternyata sektor pertanian menjanjikan, memberikan ruang bahwa pertumbuhan ekonomi ada di situ,” ujar Dr Sofyan.

Pertanian juga merupakan sektor yang mampu menghidupi hajat hidup orang banyak. Ia tegaskan, sektor ini akan mati ketika kiamat terjadi, saat manusia tidak ada lagi. Artinya, selama manusia hidup, pertanian akan tetap eksis dan bertumbuh.

Pengalaman dari pandemi ini, di balik wabah COVID-19, ada pesan moral bahwa pertanian dan desa adalah tumpuan. Namun Dr Sofyan menurutkan ada paradoks yang terjadi sebab peran pemerintah terhadap dua sektor ini masih sangat minim. Alhasil, geliat generasi muda yang bergerak dalam bidang pertanian dan desa juga minim.

“Data menunjukkan, angka usia yang mendominasi sektor pertanian berada di atas 45 tahun. Sangat sedikit yang menjadi petani kita berusia di atas 20 tahun. Mereka yang dalam usia produktif ini lebih memilih sebagai buruh industri ketimbang menjadi seorang entrepreneur di bidang pertanian,” imbuhnya.

Paradoks ini juga ditambah dengan kurangnya stimulan dari pemerintah untuk mendorong generasi muda mengembangkan potensi desa. Hanya ada beberapa kementerian yang mendorong kaum milenial untuk memulai bisnis di desa, namun belum begitu masif.

“Kita bisa mengembangkan satu pendekatan agrisociopreneur. Yakni dengan mengembangkan apa yang mampu diproduksi oleh desa dan memotong mata rantai pangan agar harga pangan bisa murah. Salah satu caranya dengan mempertemukan produsen dan konsumen di desa,” kata Dr Sofyan.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan mewujudkan kelembagaan dalam bentuk ekonomi lokal seperti badan usaha milik desa (BUMDes), atau rumah logistik yang berfungsi untuk mengumpulkan dan mendistribusikan pangan.

Dr Sofyan juga mengajak para generasi muda untuk mulai berperan dalam pertanian dan mengembangkan potensi desa. “Dari sekarang jangan lagi berpikir saya ingin bekerja di korporat, ingin jadi seorang pegawai negeri sipil (PNS), tapi jadilah agrisociopreneur. Seseorang yang mampu berwirausaha di sektor pertanian, memiliki jiwa sosial yang bisa merebut peluang pasar domestik,” kata Dr Sofyan.

Sementara Prof Eria B Laconi, Wakil Rektor Bidang Inovasi, Bisnis dan Kewirausahaan IPB University mengatakan, dalam upaya menggerakkan agrosocio preneur, kita jangan berpikir hanya budidaya, tapi harus mulai mengembangkan turunan dari budidaya itu. Adanya bio produk bisa menjadi added value. Dengan konsisten di satu produk dari hulu-hilir, saya yakin kita bisa menggerakan kemampuan pertanian berbasis desa dan desa bisa lebih maju.

 

 

 

 

(ipb/endi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *