Kota Bogor, BogorUpdate.com – Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memperluas kiprahnya di bidang pendidikan tinggi dengan membuka kampus di Kota Bogor. Berlokasi di Jalan Kapten Muslihat, Kecamatan Bogor Tengah, kampus ini menghadirkan dua program studi, yakni Arsitektur dan Smart Green Industrial Systems.
Kehadiran Unpar di Kota Bogor diharapkan tidak sekadar menambah pilihan perguruan tinggi bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan tenaga profesional yang dapat mendukung pembangunan daerah dan perkembangan industri berbasis teknologi ramah lingkungan.
Rektor Unpar, Prof Tri Basuki Joewono, mengatakan pembukaan kampus di Bogor merupakan bagian dari komitmen universitas untuk memperluas manfaat pendidikan tinggi kepada masyarakat.
Menurutnya, setelah berkiprah selama lebih dari 70 tahun, Unpar ingin memastikan pendidikan yang diselenggarakan mampu memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitarnya.
“Unpar umurnya 71 tahun dan akan 72 tahun sejak didirikan. Kami ingin memberikan pelayanan agar pendidikan tinggi bisa memberikan dampak nyata,” ujar Tri Basuki seusai peresmian kampus Unpar Bogor, Sabtu (10/10/2026).
Ia mengungkapkan, pemilihan Kota Bogor sebagai lokasi pengembangan kampus juga berkaitan dengan sejarah Unpar. Salah satu pendiri universitas tersebut merupakan Uskup Bogor, sehingga kehadiran kembali di kota ini menjadi upaya untuk mendekatkan Unpar dengan akar sejarahnya.
Selain faktor historis, Unpar melihat adanya peluang untuk bersinergi dengan Pemerintah Kota Bogor dalam mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki daerah.
Tri mengatakan, komunikasi dengan Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim telah dilakukan untuk membahas peluang keterlibatan perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan kota.
“Kami ingin hadir ke akarnya, yaitu di Bogor. Kami sudah berdiskusi dengan Pak Wali Kota untuk melihat bagaimana Unpar bisa terlibat mengembangkan apa yang sudah dimiliki Kota Bogor menjadi lebih besar,” katanya.
Di kampus Bogor, Unpar membuka dua program studi melalui skema Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU). Kedua program tersebut sebelumnya telah tersedia di kampus utama Unpar di kawasan Ciumbuleuit, Bandung.
Tri menjelaskan, program studi Arsitektur dan Smart Green Industrial Systems telah memiliki akreditasi unggul serta akreditasi internasional. Kedua bidang tersebut dipilih karena dinilai relevan dengan kebutuhan pengembangan Kota Bogor ke depan.
Arsitektur berkaitan dengan kebutuhan perencanaan dan pembangunan kawasan, sedangkan Smart Green Industrial Systems berfokus pada bidang teknologi industri dengan pendekatan yang memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.
“Unpar memiliki program studi yang siap memberikan pelayanan pendidikan tinggi dalam dua bidang, yaitu arsitektur dan teknik industri. Kami melihat dua bidang ini dibutuhkan untuk mempercepat pengembangan potensi yang ada di Kota Bogor,” jelasnya.
Setelah peluncuran resmi, Unpar mulai memperkenalkan kedua program studi tersebut kepada masyarakat dan calon mahasiswa. Kegiatan perkuliahan ditargetkan mulai berlangsung pada September 2027.
Untuk angkatan pertama, Unpar memperkirakan jumlah mahasiswa berkisar 30 hingga 40 orang pada masing-masing program studi. Jumlah penerimaan akan dikembangkan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan penyelenggaraan pendidikan dan kebutuhan mahasiswa.
Di luar dua bidang tersebut, Unpar juga membuka peluang kerja sama dengan Pemkot Bogor dalam sektor lain. Salah satunya bidang pendidikan melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang memiliki tujuh program studi.
Tri berharap kehadiran Unpar dapat memperluas ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah maupun perguruan tinggi lain yang telah beroperasi di Kota Bogor.
Sementara itu, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyambut positif pembukaan kampus Unpar. Ia menilai kedua program studi tersebut memiliki relevansi dengan kebutuhan pembangunan dan tantangan perkembangan teknologi pada masa mendatang.
Dedie menuturkan, kebutuhan tenaga ahli arsitektur akan terus ada seiring pembangunan berbagai fasilitas dan kawasan. Karena itu, keberadaan pendidikan arsitektur di Kota Bogor diharapkan dapat membantu menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.
“Dua program studi ini akan dibutuhkan untuk masa depan. Arsitektur akan tetap diperlukan sampai kapan pun, termasuk di Bogor,” kata Dedie.
Ia juga menyoroti pendekatan ramah lingkungan yang diusung program Smart Green Industrial Systems. Menurutnya, penguasaan teknologi industri yang memperhatikan keberlanjutan menjadi nilai tambah dalam menghadapi perkembangan dunia kerja.
Selain penguasaan ilmu, Dedie berharap pendidikan arsitektur dapat membuka peluang bagi mahasiswa untuk memperoleh kompetensi dan sertifikasi profesi sesuai ketentuan yang berlaku, khususnya dalam sektor jasa konstruksi.
Dengan demikian, lulusan tidak hanya memiliki bekal akademik, tetapi juga dapat memenuhi persyaratan profesional untuk berkontribusi dalam pembangunan.
“Kalau sekarang sudah ada ilmunya dan bidang studinya di sini, sekalian saja ditambah proses supaya mereka punya sertifikasi, bisa langsung bekerja, membantu, dan mempermudah proses,” pungkasnya. (Abizar)






