Kota Bogor, BogorUpdate.com – Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, turun langsung memimpin kegiatan bersih-bersih di Sungai Ciliwung pada Sabtu (25/4/2026).
Dalam aksi yang berlangsung sekitar dua jam tersebut, tim berhasil mengangkat sekitar 1,2 ton sampah dari aliran sungai.
Dalam keterangannya, Dedie menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, khususnya sungai yang memiliki peran penting bagi kehidupan.
“Ini anugerah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Ada sebuah sungai yang memberikan kehidupan bagi begitu banyak makhluk, termasuk manusia, sepanjang aliran sungai. Tetapi sikap perilaku kita ternyata masih banyak yang zhalim,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa banyaknya sampah yang diangkat menjadi bukti nyata bahwa masyarakat masih perlu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Buktinya hari ini kita angkat mungkin ada beberapa ton sampah. Kurang lebih 1,2 ton hanya dalam waktu dua jam. Ini membuktikan kita masih harus belajar berterima kasih kepada alam dan tidak menzhaliminya,” kata Dedie.
Jenis sampah yang ditemukan pun beragam, mulai dari plastik hingga limbah rumah tangga seperti popok bayi, pakaian bekas, bahkan kasur. Menurutnya, kondisi ini mencerminkan rendahnya tingkat kesadaran sebagian masyarakat.
“Saya masih banyak menemukan sampah bukan hanya plastik, tetapi popok bayi, sisa baju bekas, bahkan kasur. Ini kan menunjukkan masih kurangnya kesadaran untuk sekadar menahan diri tidak membuang sampah sembarangan,” ujarnya.
Dedie juga mengaku prihatin melihat kondisi sungai yang sebenarnya memiliki potensi keindahan alam yang luar biasa, termasuk anak sungai seperti Cibalok.
“Kita sedih sekali. Sungai yang begitu indah ini masih kita zhalimi. Padahal mestinya kita bisa mulai membangun kesadaran untuk mencintai alam,” tambahnya.
Terkait kebijakan penanganan Sungai Ciliwung, Pemerintah Kota Bogor akan memperkuat pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.
Di hulu, pemilahan sampah akan ditingkatkan melalui penguatan TPS 3R, bank sampah, serta kolaborasi dengan komunitas pecinta lingkungan.
Sementara di hilir, Pemkot Bogor telah menyiapkan dua proyek pembangkit listrik tenaga sampah (Waste to Energy/WTE), yakni WTE Bogor Raya di Galuga yang bekerja sama dengan Kabupaten Bogor, serta WTE Aglomerasi Bogor.
“Ke depan, di tahun 2028, Bogor punya kesempatan mengolah sampah hingga 1.000 ton per hari. Kalau sekarang 1,2 ton bisa kita angkat dalam dua jam, bayangkan jika ada 1.000 titik yang dibersihkan setiap hari,” jelasnya.
Dedie optimistis, dengan sistem pengelolaan yang terintegrasi, permasalahan sampah di Kota Bogor dapat teratasi secara bertahap.
Ia juga menekankan pentingnya peran industri dalam mendukung pengelolaan sampah, khususnya dalam proses pemilahan dan distribusi ke fasilitas pengolahan.
Selain itu, ia menyoroti dominasi sampah yang sulit terurai seperti popok bayi, styrofoam, serta kemasan makanan instan dan sachet.
“Yang paling memprihatinkan itu popok bayi, karena tidak terurai. Ini perlu perhatian serius,” katanya.
Ke depan, Pemerintah Kota Bogor menargetkan pengelolaan sampah yang lebih optimal, di mana sampah yang masih bernilai ekonomis dapat didaur ulang menjadi sumber pendapatan, sementara residu akan dimanfaatkan sebagai energi melalui fasilitas WTE.
Dengan langkah tersebut, Dedie berharap Kota Bogor dapat menjadi kota yang bersih dari sampah serta berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia bebas sampah. (Abizar)












