Scroll untuk baca artikel
Home

Wali Kota Bogor Tinjau Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di Situ Gede

×

Wali Kota Bogor Tinjau Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di Situ Gede

Sebarkan artikel ini

Kota Bogor, BogorUpdate.com – Upaya mengatasi persoalan penumpukan sampah yang kerap berujung pada praktik pembakaran mulai dilakukan di RW 10, Kelurahan Situ Gede, Kota Bogor.

Warga setempat kini menggandeng melalui Program Fireflies untuk mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Program ini turut ditinjau langsung oleh Wali Kota Bogor, Dedi Rachim, dalam kunjungannya ke fasilitas pemilahan sampah di Lapangan Bansus RT 03/RW 10, Jumat (24/4/2026).

Penanggung jawab program dari Diet Plastik Indonesia, Farhan, menjelaskan bahwa Proyek Fireflies merupakan inisiatif untuk meningkatkan kualitas udara di tiga kota, yakni Bogor, Depok, dan Jakarta.

Di Situ Gede, permasalahan utama berasal dari kebiasaan warga membakar sampah akibat penumpukan dan keterlambatan pengangkutan.

“Pembakaran sampah menjadi salah satu penyumbang polusi udara. Karena itu, kami mendorong solusi dari hulu, yaitu pemilahan sampah langsung dari rumah,” ujar Farhan.

Sebagai bagian dari implementasi, Diet Plastik Indonesia tengah melakukan riset Waste Analysis and Characterization Study (WACS). Sebanyak 150 rumah dari total 400 rumah di RW 10 dijadikan sampel selama delapan hari berturut-turut.

Warga diberikan empat jenis wadah untuk memisahkan sampah organik, non-organik, residu, dan bahan berbahaya (B3).

Sampah yang telah dipilah kemudian dikumpulkan dan dianalisis untuk mengetahui komposisi harian. Dari hasil sementara, masih ditemukan sebagian warga yang belum memilah sampah secara optimal.

Selain WACS, proyek ini juga mencakup riset antropologi sosial yang bekerja sama dengan peneliti dari guna memahami perilaku dan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah.

Tak hanya itu, riset pemantauan kualitas udara juga tengah dikembangkan melalui pemasangan sensor untuk mendeteksi asap hasil pembakaran.

Farhan menambahkan, melalui sistem pemilahan ini, sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau melalui teknologi seperti maggot dan biodigester.

Sementara sampah non-organik bernilai ekonomi dapat disalurkan kepada petugas pemilah. Dengan demikian, hanya sampah residu yang akan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Di sisi lain, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, terutama menjelang rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

“Kalau sampah hanya dipindahkan dan ditumpuk, lingkungan akan rusak. Tapi kalau dikelola dengan baik, bisa menjadi sumber energi,” ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, Dedie juga menyoroti tingginya volume sampah popok bayi yang masuk kategori residu. Ia menegaskan bahwa popok tidak boleh dicampur dengan sampah organik dan akan disiapkan sistem penampungan khusus di tiap wilayah.

Ke depan, sampah residu seperti popok bayi akan menjadi salah satu bahan utama dalam operasional PLTSa yang direncanakan Pemerintah Kota Bogor.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi lingkungan, program ini diharapkan mampu mengubah pola pengelolaan sampah sekaligus mengurangi praktik pembakaran yang merusak kualitas udara.

Dengan sistem yang lebih terstruktur, sampah tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan potensi sumber daya yang bernilai guna. (Abizar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *