Foto pasangan Ade Yasin – Iwan, calon bupati dan wakil bupati Bogor
Cibinong – Bogor Update
Tokoh ulama Kabupaten Bogor tak mengharamkan adanya perempuan menjadi pucuk pimpinan pemerintahan, instansi maupun non pemerintahan.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor, KH Ahmad Mukri Aji mengatakan, pihaknya tidak mempersoalkan gender dalam kepemimpinan di pemerintahan.
“Insya Allah dalam perspektif islam, pimpinan wanita ataupun laki-laki sama-sama mempunyai kapasitas, yang penting memiliki kualitas. Mumin laki-laki, mumin wanita, sebagian mereka akan menguatkan kepada bagian yang lain,” ujar KH Mukri Aji kepada wartawan, Minggu (21/1/18) kemarin.
Ia mengibaratkan, bahkan dalam sejarah umat islam ada seorang perempuan yang menjadi pemimpin perang pada zaman rasulullah. “Bahkan Siti Aisyah Radhi Radhiyallahu Anha itu menjadi panglima perang pada zaman rasulullah. Istri rasul perempuan kan, tapi Siti Aisyah itu berkualitas dan mampu,” katanya.
Lebih lanjut ia menegaskan, atas dasar histori tersebut, mayoritas ulama tidak membedakan pemimpin laki-laki maupun perempuan selama masih diluar konteks religius. Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi prioritas.
“Sekalipun satu, dua ada yang menyatakan memang kalau masih ada laki-laki yang hebat, ya lelaki yang hebat, tapi mayoritas ulama tidak melarang perempuan jadi RT, Kepala Sekolah, Presiden, Bupati, Kapolda, Kapolres, Danrem, Danramil atau instansi apapun . Ulama pada umumnya menyatakan bahwa yang tidak boleh pemimpin perempuan itu ketika mengimami sholat,” tegasnya.
Senada, Ketua PCNU Kabupaten Bogor, Romdon mengungkapkan, pihaknya tidak mengkhususkan jenis kelamin dalam pemimpin pemerintahan. “Mau laki-laki ataupun perempuan untuk menjadi pemimpin suatu pemerintahan itu tidak jadi soal, yang penting orang tersebut mempunyai kapabilitas dan amanah,” tegas Romdon.
Sementara itu, Bakal Calon (Balon) Bupati Bogor, Ade Yasin menerangkan, ada sejumlah daerah dan pimpinan dalam kesatuan kepolisian yang dikepalai oleh seorang perempuan dan berdampak positif.
“Siapa bilang perempuan tidak baik memimpin? Kita lihat Surabaya, begitu hebatnya Risma. Saya juga ingin seperti Risma, bagaimana perempuan bisa memimpin sebuah wilayah hingga membuat perubahan yang berdampak baik untuk masyarakat banyak,” kata Ade Yasin.
Lebih lanjut Ketua DPW PPP Jawa Barat ini memaparkan, dirinya berjanji akan menepis stigma masyarakat yang masih memandang seorang perempuan kurang baik menjadi pemimpin dalam tatanan pemerintahan.
“Jika diberi amanah oleh masyarakat Kabupaten Bogor dan diridhoi Allah, saya akan menepis stigma perempuan tak baik jadi pemimpin tersebut dengan program yang bagus, prestasi dan kemampuan. Saya insya Allah ketika dipercaya masyarakat, harus bisa membuat Kabupaten Bogor ini lebih baik, maju dan melahirkan kebijakan yang baik untuk kepentingan masyarakat,” paparnya. (EFT/DO)
Editor: Endi







