Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeNews

Belajar dari Masa Lalu, Begini Cara Warga Citeureup Bertahan Hidup dari Musim Kemarau

×

Belajar dari Masa Lalu, Begini Cara Warga Citeureup Bertahan Hidup dari Musim Kemarau

Sebarkan artikel ini
Warga Citeureup saat mandi dan mencuci pakaian serta kendaraan di aliran Sungai Cipamingkis akibat krisis air bersih yang disebabkan kemarau panjang yang melanda. (Erwin | Bogorupdate)

Citeureup, BogorUpdate.com – Musim kemarau yang mengakibatkan krisis air bersih mulai melanda wilayah Kabupaten Bogor, salah satunya di Kampung Tonggoh RT 04 RW 03, Desa Gunungsari, Kecamatan Citeureup.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, tercatat ada 125 Kepala Keluarga (KK) atau 517 orang mengalami krisis air bersih di Kecamatan Citeureup.

Bahkan, untuk mengakali dari persoalan tersebut, BPBD Kabupaten Bogor telah mendistribusikan 5 ribu liter air bersih atau 1 rit ke kawasan tersebut melalui toren berkapasitas 9 ribu liter yang dipasang di permukiman warga sejak beberapa hari lalu.

Dari hasil penelusuran BogorUpdate.com di lokasi, toren berwarna biru tersebut diketahui merupakan pemberian dari Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Bogor yang berisikan air bersih bagi warga yang kesulitan mendapatkan air bersih.

Toren berkapasitas 9 ribu liter yang telah berisikan 5 ribu liter air bersih dari BPBD Kabupaten Bogor itu diketahui hanya cukup untuk 2-3 hari ke depan.

Air bersih yang biasanya diambil oleh warga pada waktu pagi dan malam hari dari toren itu jika habis nantinya akan menghubungi pihak desa setempat untuk kembali meminta pengiriman dari BPBD Kabupaten Bogor.

Ketua RT 04 Kampung Tonggoh, Makmur mengatakan bahwa kekeringan yang mengakibatkan krisis air bersih telah terjadi di wilayahnya sejak 20 hari yang lalu.

“Itu imbasnya air di rumah warga pada ga keluar, dan sekalinya keluar kadang ada yang bau lumpur seperti di rumah saya terdampak,” ujar Makmur kepada BogorUpdate.com saat ditemui, Jumat, (19/6/2026).

Imbas hal itu, kata Makmur, ratusan warga sampai harus mengambil air di aliran Sungai Cipamingkis yang jaraknya tidak dekat.

Pantauan di lokasi sekitar pukul 14.00 WIB, warga berbondong-berbondong datang ke aliran Sungai Cipamingkis untuk mandi di kedalaman 2-3 meter, mencuci pakaian, perabotan, kendaraan motor dan mobil, serta mengambil stok air ke derigen untuk persediaan di rumah.

Makmur menyebut, aliran Sungai Cipamingkis kerap dipenuhi warga untuk mengambil air hingga tengah malam untuk ketersediaan air di rumah sejak musim kemarau mulai melanda.

“Ini biasanya airnya tinggi dan sulit dilalui kendaraan, semenjak kemarau ya agak menyurut airnya,” katanya.

Adapun, lanjut dia, air dari aliran Sungai Cipamingkis hanya bisa digunakan untuk persediaan minum. Mengingat, aliran sungai tersebut kerap tercemar oleh berbagai limbah rumah tangga hingga pabrik.

“Ya cuma bisa buat cuci-cuci dan mandi, dan mandi pun efeknya warga kadang ada yang gatal badannya,” terangnya.

Salah satu warga sekitar, Nur mengakui bahwa kekeringan yang mengakibatkan krisis air bersih bukan yang pertama terjadi di kawasan Citeureup.

“Tahun lalu pernah sampai 7 bulan kemarau yang jarang hujan sampai kesusahan dapat air bersih,” ucap Nur saat ditemui sedang mencuci pakaian.

Dengan kemarau yang mencapai 7 bulan itu, Nur mengakali persoalan tersebut dengan irit menyetok persediaan air dari aliran Sungai Cipamingkis.

“Karena waktu itu Sungai Cipamingkis mengering dan sedikit airnya, ya kita warga buat lubang-lubang kecil di sungai agar keluar air lagi,” paparnya.

Dengan situasi yang kembali terjadi kemarau, Nur berharap pihak desa setempat bisa bergerak cepat mengisi air jika nantinya persediaan air bersih di toren habis.

“Ya harapannya pemerintah bisa cepat dan siap siaga mengisi air kembali kalau habis,” tutupnya. (Erwin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *