Leuwisadeng, BogorUpdate.com – Fenomena meningkatnya jumlah orang yang mapan secara materi namun dinilai lemah secara spiritual menjadi perhatian dalam gelaran Muhsinin Club Conference di Hotel Aston Priority Simatupang, Jakarta, Senin (23/02/2026).
Dalam forum tersebut, Kampoong Ecopreneur Leuwisadeng diperkenalkan sebagai model kampung sedekah modern yang mengedepankan keseimbangan ekonomi dan nilai ruhani.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Prof. Irfan Syauqi Beik, menyoroti dua fenomena kemiskinan yang kini terjadi di masyarakat.
“Pertama, ada yang kaya secara materi tetapi miskin spiritual. Kedua, ada yang sudah miskin materi, miskin pula spiritualnya. Yang kedua ini bisa disebut miskin kuadrat,” ujarnya.
Menurutnya, kemiskinan spiritual belum banyak mendapat perhatian serius, baik dari pemerintah maupun publik. Padahal, dampaknya dapat memicu hilangnya kepedulian sosial, meningkatnya rasa curiga antarwarga, hingga berbagai persoalan sosial lainnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan data pemerintah, jumlah penduduk miskin secara materi di Indonesia mencapai 23,85 juta jiwa atau 8,47 persen dari total populasi. Namun, belum ada ukuran pasti terkait angka kemiskinan spiritual.
Sementara itu, pendiri Muhsinin Club, Dewa Eka Prayoga, menyatakan dukungannya terhadap pendekatan pengentasan kemiskinan yang juga mempertimbangkan aspek spiritual. Sejak berdiri pada 2022, komunitas tersebut mengajak anggotanya untuk rutin bersedekah dalam jumlah signifikan guna mendukung berbagai program sosial.
Dana yang dihimpun telah disalurkan untuk penyediaan makanan bergizi bagi santri, pembangunan masjid dan pesantren, distribusi daging kurban, pembangunan hunian bagi korban bencana, hingga pemberangkatan 158 santri penghafal Al-Qur’an untuk umrah. Total dana yang telah tersalurkan mencapai Rp22 miliar.
“Kita membutuhkan lebih banyak orang yang diberi kelapangan rezeki dan memiliki kepedulian sosial tinggi,” ujar Dewa.
Pada momen Ramadan, Muhsinin Club berkolaborasi dengan Yayasan Kampoong Ecopreneur yang berbasis di Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. Pendiri Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini, menekankan pentingnya kolaborasi antarindividu dan komunitas dalam membangun kebaikan yang terorganisir.
Salah satu program unggulannya adalah One Family One Ecopreneur, yang mendorong setiap keluarga memiliki usaha berbasis lingkungan. Program ini di antaranya mengajak masyarakat menanam ubi dan kopi yang ditargetkan untuk pasar ekspor seperti Malaysia dan Singapura.
“Tahun ini kami menargetkan program tersebut mulai berjalan secara konkret,” kata Jamil.
Ia berharap sinergi antara komunitas filantropi dan pemberdayaan ekonomi ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik dari sisi materi maupun spiritual.
