Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeNews

Siapa yang Tetapkan Target Prestasi?

×

Siapa yang Tetapkan Target Prestasi?

Sebarkan artikel ini

Ilustrasi kopi pait. (Net)

Kopi Pahit
Oleh : Asep Syahmid

Opini, BogorUpdate.com – Gengsi pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi seperti, Porprov dan Peparda Jabar 2026 akan terlihat dari pencanangan target medali (Prestasi) yang dilakukan oleh tiap Kontingen daerah.

Target medali menjadi kalimat yang krusial bagi para pengurus atau inohong olahraga peserta event Porprov atau Peparda Jabar 2026. Karena, raihan medali akan menjadi potret nyata dari keberhasilan pembinaan olahraga yang dilakukan semua kontingen daerah.

Ada beberapa hal yang akan dikupas penulis terkait soal target medali seperti siapa yang berhak menentukan target medali tiap kontingen daerah? Kapan waktu ideal target mulai dicanangkan? Hal hal apa saja yang bisa menjadi penyebab atlet gagal mencapai target yang dicanangkan?

Pada dasarnya, penentuan target medali harus dikakukan secara profesional dan harus menjadi keputusan kolektif yang melibatkan Pelatih Kepala, Tim Sport Science, Manager Tim, Pengurus Cabang Olahraga, Pertimbangan KONI/NPCI atau otoritas pembina.

Akan tetapi, hal yang mendasar dan yang paling memahami kapasitas riil atlet adalah Pelatih Kepala dan Tim Teknis.

Target yang dipaksakan secara politis tanpa pertimbangan teknis justru berisiko kontraproduktif terhadap mental atlet.

Idealnya, target medali mulai dicanangkan setelah hasil monitoring Pefforma Atler Terukur yang semakin dipertajam dengan Training Camp (TC) yang sangat punya peran vital dan fungsi penting seperti menguji kesiapan akhir atlet, melakukan simulasi pertandingan, mengukur peningkatan atau stagnasi performa

Dalam konteks ini, target medali yang profesional adalah target yang dinamis, bisa direvisi berdasarkan perkembangan terakhir kondisi para atlet.

Namun, target yang dicanangkan bisa saja berantakan jika para atlet terkendala oleh beberapa faktor seperti Cedera menjelang atau saat pertandingan, Gangguan psikologis (tekanan, over confidence, anxiety) Salah strategi atau miskalkulasi taktik. Faktor non-teknis (cuaca, perangkat pertandingan, keputusan wasit). Kurangnya recovery dan manajemen beban latihan, Lawan mengalami peningkatan performa signifikan.

Dalam olahraga modern, penguasaan data lawan menjadi faktor strategis. Analisis kekuatan lawan meliputi rekor waktu atau skor terbaik, pola permainan, Kelemahan teknis dan strategi yang sering digunakan.

Semakin akurat data yang dimiliki maka akan semakin tajam strategi yang bisa disiapkan. Inilah mengapa performance analysis kini menjadi standar di banyak negara maju olahraga.

Harus diingat pula oleh para inohong kontingen, bahwa dalam olahraga prestasi, selisih kemenangan sering kali sangat tipis. Satu detik, satu poin, bahkan satu kesalahan kecil bisa menentukan dan menjadi penyebab kegagalan target.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *