Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeNews

Si Pembersih yang Terbuang: Ledakan Sapu-Sapu dan Peluangnya sebagai Pakan Ikan Bernilai Tinggi

×

Si Pembersih yang Terbuang: Ledakan Sapu-Sapu dan Peluangnya sebagai Pakan Ikan Bernilai Tinggi

Sebarkan artikel ini

Oleh: Nazwa Nabila

Mahasiswa Pendidikan Biologi, Universitas Pakuan

Kota Bogor, BogorUpdate.com – Di tepian Sungai Ciliwung, pemandangan ini terasa seperti alarm yang terus menyala. Ikan sapu-sapu muncul di hampir setiap sudut aliran.

Bukan lagi sekadar banyak, jumlahnya kian meledak dan perlahan mendominasi, menyingkirkan ikan-ikan lokal yang dulu menjadi tangkapan utama. Ini bukan kebetulan.

Di balik kemampuannya bertahan di air yang tercemar, kehadiran ikan sapu-sapu justru menjadi sinyal sunyi bahwa kondisi sungai sedang tidak baik-baik saja.

Penelitian oleh Elfidasari dkk. (2016) menunjukkan bahwa keberadaan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung tidak hanya tinggi, tetapi juga cenderung mendominasi komunitas ikan, dengan persentase kemunculan mencapai lebih dari 50% dari total tangkapan pada beberapa titik pengamatan.

Temuan ini diperkuat oleh studi morfologi Qoyyimah dkk. (2016), yang mencatat bahwa salah satu spesiesnya, Pterygoplichthys pardalis, dapat mencapai proporsi hingga sekitar 76% dari populasi ikan sapu-sapu yang teridentifikasi di perairan tersebut.

Kondisi ini menjadi indikator kuat bahwa keseimbangan ekosistem sungai telah mengalami tekanan serius. Fenomena tersebut juga sejalan dengan pengamatan para ahli yang menyebutkan bahwa ikan sapu-sapu kini menjadi spesies yang paling mudah dijumpai di Sungai Ciliwung, menggantikan keragaman ikan lokal yang sebelumnya lebih tinggi.

Selama ini, ikan sapu-sapu lebih sering dipandang sebagai hama yang merugikan. Ia dianggap tidak memiliki nilai ekonomi dan kerap dibuang begitu saja ketika tertangkap.

Namun, di balik citra negatif tersebut, muncul pertanyaan yang jarang diajukan: apakah benar ikan ini tidak memiliki nilai sama sekali?

Di balik citra negatifnya, mulai muncul kemungkinan yang layak dipertimbangkan. Ikan sapu-sapu ternyata memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan.

Pernyataan ini didukung oleh penelitian di IPB University yang menunjukkan bahwa daging ikan sapu-sapu memiliki kandungan protein sekitar 15–16% dengan kadar lemak yang rendah. Hal ini menempatkannya sebagai bahan baku perikanan berprotein tinggi yang layak dikembangkan lebih lanjut sebagai tepung ikan untuk pakan.

Temuan ini memperkuat bahwa ikan yang selama ini dianggap tidak bernilai sebenarnya menyimpan potensi besar, terutama dalam menjawab kebutuhan akan sumber pakan alternatif yang lebih ekonomis.

Lalu, bagaimana potensi ini bisa dimanfaatkan secara nyata?

Di sinilah proses pengolahan menjadi kunci. Secara sederhana, pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan pakan dilakukan melalui proses pengolahan menjadi tepung ikan.

Ikan yang telah dibersihkan dikeringkan, kemudian digiling hingga menjadi bentuk halus yang dapat dicampurkan dalam formulasi pakan. Proses ini penting untuk memastikan bahan lebih awet, mudah disimpan, serta aman digunakan.

Dalam beberapa penelitian, pengolahan yang tepat juga berperan dalam meningkatkan kualitas nutrisi sekaligus meminimalkan risiko kontaminasi, sehingga bahan baku dari ikan sapu-sapu dapat dimanfaatkan secara optimal dalam budidaya ikan.

Meski menjanjikan, pemanfaatan ikan sapu-sapu tetap perlu dilakukan secara hati-hati. Penelitian dari IPB University menunjukkan bahwa ikan ini berpotensi mengandung logam berat akibat hidup di perairan tercemar. Oleh karena itu, diperlukan proses pengolahan yang tepat serta pengujian kualitas sebelum digunakan sebagai bahan pakan.

Dengan pendekatan yang tepat, risiko tersebut dapat dikendalikan tanpa menghilangkan potensi manfaatnya.

Dalam dunia budidaya perikanan, pakan merupakan komponen biaya terbesar. Ketergantungan pada bahan baku konvensional membuat biaya produksi terus meningkat.

Di titik inilah pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan pakan alternatif menjadi relevan, tidak hanya sebagai solusi lingkungan, tetapi juga sebagai strategi efisiensi ekonomi.

Pandangan ini tidak hanya muncul dari hasil penelitian, tetapi juga terlihat di tingkat lapangan.

Bapak Alendri, seorang pembudidaya ikan nila, menyambut baik gagasan tersebut. Menurutnya, inovasi ini dapat menjadi alternatif yang menjanjikan sekaligus membantu mengurangi populasi ikan sapu-sapu yang semakin meluas di perairan.

Ia mengaku tidak memiliki kekhawatiran selama pakan berbahan dasar ikan sapu-sapu telah melalui proses pengolahan yang tepat. Justru, ia melihat peluang dari sisi ekonomi.

“Kalau bisa diolah dengan baik dan lebih murah, ini jelas sangat membantu, bahkan bisa menekan biaya produksi yang selama ini jadi beban utama peternak ikan.”

Pengalaman di lapangan semakin memperkuat urgensi persoalan ini. Saat membersihkan kolam, Bapak Alendri kerap menemukan ikan sapu-sapu yang masuk melalui aliran air dari sungai dan saluran menuju sawah.

Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran ikan sapu-sapu tidak lagi terbatas di sungai utama, tetapi telah merambah ke area budidaya.

Gambar 3. Wawancara dengan Bapak Alendri, pembudidaya ikan nila di wilayah Bogor
Sumber: Dokumentasi Penulis, 2026

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Selain berpotensi mengganggu kegiatan budidaya, keberadaan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar juga dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem perairan.

Karena itu, diperlukan solusi nyata yang tidak hanya mengendalikan populasinya, tetapi juga memberikan nilai tambah.

Pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan pakan menjadi salah satu pendekatan yang menjanjikan. Dengan mengubah spesies invasif menjadi sumber daya bernilai, permasalahan lingkungan dapat diolah menjadi peluang ekonomi.

Jika dikelola dengan baik, langkah ini tidak hanya membantu pembudidaya menekan biaya produksi, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan. Lebih dari itu, pendekatan ini membuka jalan bagi pemanfaatan sumber daya lokal yang selama ini terabaikan, sekaligus mendorong terciptanya sistem budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, ikan sapu-sapu tidak harus selalu dipandang sebagai masalah. Dalam sudut pandang yang berbeda, ia justru menawarkan peluang bagaimana sesuatu yang selama ini dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi solusi yang bernilai.

Dan mungkin, dari sungai yang selama ini dianggap bermasalah, justru lahir solusi yang mampu menjawab tantangan perikanan di masa depan, sekaligus menjadi contoh bagaimana pendekatan ilmiah dapat menjembatani persoalan lingkungan dan kebutuhan ekonomi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *