Ilustrasi kopi pait. (Net)
KOPI PAIT
Oleh : Asep Syahmid
Opini, BogorUpdate.com – Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) dan Paralympic Daerah (Peparda) Jawa Barat merupakan event olahraga empat tahunan yang diikuti para atlet dari binaan cabor yang ada di KONI dan atlet-atlet disabibilitas binaan NPCI se-Jawa Barat.
Dalam kontek ini, apakah kedua event olahraga tersebut wajib diikuti oleh 27 Kota dan Kabupaten yang ada di Jawa Barat? Apakah Porprov dan Peparda Jabar itu termasuk ajang bergengsi atau prestise?
Apakah Porprov dan Peparda menjadi puncak dari hasil pembinaan atlet yang dilakukan di 27 Kota dan Kabupaten yang ada di Jawa Barat dalam artian bukan atlet mutasi?
Terlepas dari itu semua, untuk ikut serta dalam dua event tersebut tentunya butuh uang yang banyak.
Saat ini, terdapat defisit anggaran yang besar dan terjadi dibeberapa daerah di Jawa Barat Bahkan, untuk operasional Pemda saja mungkin banyak yang megap-megap.
Untuk itu, perlu ada kesadaran semua stakholder olahraga bahwa saat ini keikutsertaan dalam multievent apapun harus juga dikuatkan dengan komitmen untuk menggunakan uang sebaik baiknya. Bagi daerah yang dana hibah olahraganya besar, maka targetnya harus juara. Tidak ada kata lain pokoknya harus juara umum.
Karena uang milyaran buat peringkat dua atau dibawahnya, akan menjadi tamparan keras buat semua stakeholder.
Lalu kita bicara tentang bagaimana caranya jadi juara umum. Juara umum secara simpelnya bisa diartikan punya medali emas yang lebih banyak dari daerah lain.
Terus bagaimana caranya jadi juara umum inilah saatnya kita pakai cara-cara yang modern dan profesional.
Harus jelas berapa medali yang mau diraih? ini tugasnya Tim Sport Science dan elemen didalamnya. Elemen yang ada dalam tim Sport Science ini harus tahu berapa medali yang dibutuhkan untuk jadi juara. Cek histori selama ini, berapa perolehan medali juara pertama.
Kalau sudah tahu secara detail, maka selanjutnya ada evaluasi atlet, mampukah meraih medali yang ditargetkan? Jika memang mampu, Pola Pelatcab atau Pelatkabnya bagaimana? Jika tidak mampu bagaimana cara untuk meraihnya!
Tentunya harus ada komunikasi intensif antara Tim Sport Science seperti bidang sport intelegen, bidang kepelatihan, bidang psikologi, sampai ke bidang gizi. Hal ini untuk memastikan target medali bisa tercapai.
Program Pelatcab atau Pelatkab jangan hanya dijadikan seremonial dan rutinitas saja, Pelatcab atau Pelatkab harus bisa memastikan atau menghasilkan atlet atlet yang akan meraih medali sesuai target.
Selain itu, Monitoring Pelatcab atau Pelatkab jangan hanya cuma datang dan melihat saja.
Saat melakukan Monitoring, harus ada evaluasi dan bahas: bagaimana kondisi sekarang? Apa yang kurang? Bagaimana cara menutup kekuranganya? Bagaimana informasi terupdate tentang calon lawan dan prediksi pertandingan nanti seperti apa?
Untuk itulah, Tim Sport Science dan Sport Intelegen harus jalan, kerja, dan all out untuk mencari data: data internal dan data calon pesaing.
Evaluasi mingguan kontingen harus tetap jalan, cek progres, apa yang kurang. Tak hanya itu, komunikasi semua yang ada dalam kontingen dan bahas secara bareng bareng.
Berhasil tidaknya satu Kontingen daerah bukan hanya tanggung jawab dari Binpres dan Para Pelatih saja. Namun menjadi tanggung jawab semua elemen yang ada dalam kontingen serta tanggung jawab Stakholder Keolahragaan.
Jajaran Binpres jangan alergi komunikasi dengan elemen yang tidak masuk dalam ranah Binpres atau kepelatihan.
Optimalkan elemen SDM yang punya pengalaman dan wawasan dalam keolahragaan walaupun tidak dianggap atau tidak masuk dalam tim strategi pemenangan.
Menetapkan target medali harus didasari beberapa variabel pendukung. Menghitung target medali bukan hitungan matematika atau bukan seperti Mang Udin Menghitung Jengkol yang akan dijualnya.
Ingat 1000 Medali Perak Tetap Akan Kalah oleh 1 Medali Emas!!!!.






