Kota Bogor, BogorUpdate.com – Kasus remaja dengan kondisi kelamin ganda kembali terjadi di wilayah Bogor. Setelah pada 2024 publik dihebohkan dengan kisah Tiara Aprilianti Putri (15), warga Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, kini kondisi serupa dialami AD (19), warga Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor.
Keluarga AD kini berjuang mendapatkan pengobatan lanjutan di tengah keterbatasan biaya.
Ibunda AD, Yayah, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut telah diketahui sejak anaknya lahir. Berbagai upaya pengobatan telah dilakukan selama bertahun-tahun, mulai dari pemeriksaan di puskesmas, menjalani operasi di rumah sakit daerah, hingga mendapatkan rujukan ke rumah sakit di Jakarta.
Namun, hingga saat ini penanganan medis belum membuahkan hasil yang diharapkan.
“Sudah berobat ke mana-mana. Dari puskesmas, rumah sakit, sampai ke Jakarta. Tapi belum ada hasil yang kami harapkan,” ujar Yayah kepada Bogorupdate Kamis (6/8/26).
Meski telah menjadi peserta BPJS Kesehatan, Yayah mengatakan keluarganya masih harus menanggung biaya operasional, transportasi, akomodasi, hingga kebutuhan pendamping selama menjalani pengobatan. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat proses pengobatan tidak dapat berjalan maksimal.
Yayah berharap adanya perhatian dari pemerintah maupun para dermawan agar anaknya dapat melanjutkan pengobatan hingga memperoleh penanganan yang optimal.
Kasus AD mengingatkan masyarakat pada peristiwa serupa yang sempat menjadi perhatian publik pada 2024. Saat itu, seorang remaja bernama Tiara Aprilianti Putri (15), warga Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, diketahui mengalami kondisi perkembangan karakteristik seksual (Differences of Sex Development/DSD) atau yang dikenal masyarakat sebagai kelamin ganda. Kasus tersebut menyita perhatian karena memerlukan serangkaian pemeriksaan medis mendalam untuk menentukan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Dokter menjelaskan bahwa DSD merupakan kondisi medis yang kompleks dan penanganannya harus dilakukan secara menyeluruh oleh tim multidisiplin, meliputi pemeriksaan hormon, kromosom, organ reproduksi, hingga pendampingan psikologis. Setiap kasus memiliki karakteristik berbeda sehingga tidak dapat disamakan antara satu pasien dengan pasien lainnya.
Kembali munculnya kasus serupa di Bogor menunjukkan pentingnya akses layanan kesehatan yang memadai bagi pasien DSD. Selain penanganan medis, dukungan sosial dan pembiayaan juga menjadi faktor penting agar pasien dapat menjalani proses pengobatan secara berkelanjutan.
Sementara itu, keluarga AD berharap perjuangan mereka mendapat perhatian sehingga proses pengobatan dapat dilanjutkan dan AD memperoleh kesempatan menjalani kehidupan yang lebih baik. (abizar)












