Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeNews

Orang Tua di Jonggol Resah, Anak Tak Kunjung Sekolah Usai Bayar Jutaan ke Calo

×

Orang Tua di Jonggol Resah, Anak Tak Kunjung Sekolah Usai Bayar Jutaan ke Calo

Sebarkan artikel ini

Jonggol, BogorUpdate.com – Puluhan orang tua calon siswa di Kecamatan Jonggol dilanda keresahan setelah anak-anak mereka belum juga masuk sekolah. Mereka mengaku telah membayar jutaan rupiah kepada seseorang yang diduga sebagai calo, yang menjanjikan bangku di SMA negeri melalui jalur “kelas mandiri”.

Persoalan tersebut akhirnya dibahas dalam audiensi yang digelar di Kantor Kecamatan Jonggol. Audiensi dihadiri Sekcam Jonggol, Kasi Trantib Satpol PP, Bhabinkamtibmas, Babinsa, perwakilan guru SMPN 3 Jonggol, pihak yang mengoordinasikan pendaftaran secara kolektif, Ketua Komite SMAN 3 Jonggol, serta para orang tua siswa.

Namun, audiensi yang diharapkan menjadi jalan keluar justru berakhir tanpa keputusan yang jelas. Kondisi tersebut menambah kekecewaan para orang tua yang selama ini menunggu kepastian nasib pendidikan anak-anak mereka.

Salah seorang orang tua siswa yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa awalnya mereka dijanjikan anak-anak akan bersekolah di SMAN 3 Jonggol, namun rapor dan ijazah induk disebut akan diterbitkan melalui SMAN 1 Jonggol.

“Kami dijelaskan anak-anak akan sekolah di SMAN 3 Jonggol, tetapi rapor dan ijazahnya dari SMAN 1 Jonggol. Kami diminta segera membayar karena katanya kuotanya terbatas agar nama anak cepat didaftarkan,” ujarnya.

Menurutnya, setelah menyetorkan uang secara tunai, para orang tua juga diminta melengkapi berbagai persyaratan administrasi, mulai dari pas foto ukuran 3×4 dan 4×6 masing-masing empat lembar, fotokopi Kartu Keluarga, KTP, akta kelahiran, hingga dokumen pendukung seperti KKS, KIP, dan PIP. Seluruh data siswa juga telah dikumpulkan dengan alasan akan diproses untuk keperluan Dapodik.

Nominal pembayaran yang diminta disebut bervariasi, mulai dari Rp 3,5 juta hingga Rp 5 juta. Orang tua tersebut mengaku telah menyerahkan uang sebesar Rp 4 juta sesuai permintaan pihak yang menjanjikan penerimaan siswa.

Setelah pembayaran dilakukan, para orang tua dijanjikan anak-anak mulai masuk sekolah pada hari Selasa. Namun, jadwal tersebut terus mengalami penundaan dengan berbagai alasan, mulai dari gedung yang belum siap hingga masih menunggu konfirmasi dari pihak tertentu.

“Sudah lebih dari dua minggu anak-anak kami belum sekolah. Teman-temannya sudah belajar, sementara anak kami masih menunggu tanpa kepastian. Kami terus diberi alasan dan jadwalnya selalu diundur,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, mayoritas orang tua memilih jalur tersebut karena anak-anak mereka tidak lolos dalam proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Mereka kemudian memperoleh informasi mengenai adanya pihak yang mengaku bisa membantu memperoleh bangku di SMA negeri melalui jalur yang disebut sebagai “kelas mandiri”.

Kini, para orang tua berharap ada kepastian atas nasib pendidikan anak-anak mereka. Jika memang janji tersebut tidak dapat direalisasikan, mereka meminta uang yang telah disetorkan segera dikembalikan.

“Harapan kami sederhana. Kalau memang tidak bisa, sampaikan secara terbuka dan kembalikan uang kami. Anak-anak sudah terlalu lama menunggu, jangan sampai mereka semakin tertinggal pelajaran dan kondisi psikologisnya terganggu karena melihat teman-temannya sudah bersekolah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *