Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaPemerintahan

Miris Masih Ada di Kabupaten Bogor, 10 Tahun Herni Tinggal Digubuk Reot

×

Miris Masih Ada di Kabupaten Bogor, 10 Tahun Herni Tinggal Digubuk Reot

Sebarkan artikel ini

Nanggung, BogorUpdate.com
Kehidupan Hernih (37) warga Kampung Cimanganten RT 02 RW 11, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung sangatlah memprihatinkan, kenapa tidak? Rumah yang tidak jauh dengan perusahaan BUMN PT.Antam Pongkor hingga sekarang belum tersentuh bantuan program sosial Rehabilitasi Rutilahu baik Pemerintah Kabupaten Bogor maupun dari pihak perusahaan itu sendiri.

Ibu 3 anak ini sudah 10 tahun tinggal di gubuk reyot dengan keadaan rumah tidak layak huni, seluruh bangunan tersebut lapuk termakan usia. Kondisi rumah tersebut mengalami kemiringan akibat menahan beban berat gentang. “Sang suami hanyalah bekerja serabutan, kalau ada yang nyuruh ya kerja, beginilah keadaannya,” kata Herni kepada wartawan, kemarin.

Rumah yang berukuran sekira 6×9 per segi hanya terbuat dari kayu, bambu serta bilik bambu yang keadaanya sudah pada bolong tentunya membuat hembusan angin amat dingin bagi penghuninya apalagi ketika hujan deras akan membuat basah dibagian dalam rumah. “Sudah berkali kali di survei mah, difotoin terus tapi sampe sekarang belum pernah dibangun,” ujar Herni.

Walaupun keadaan hujan, Hernih bercerita, Ia dan keluarganya masih menempati rumahnya meski terancam dan tidak menutup kemungkinan sewaktu waktu keadaan rumahnya bisa terjadi ambruk. “Keadaan hujan pun kami dan keluarga masih tinggal disini pak, semoga allah selalu melindungi kami dan tidak terjadi apa apa,” imbuhnya.

Hanya berlantaikan plesteran semen sebagian sudah pada hancur, tidak ada fasilitas yang kelihatan berharga di dalam rumahnya. “Kami berharap ada perhatian pemerintah yang bisa membangun rumah kami,” harapnya.

Dikesempatan itu, ketua RT 02 RW 11 Ahmad diakuinya tidak semua warga Kampung Cimanganten memiliki rumah gedong, tetapi warganya yang hidupnya dibawah garis kemiskinan dengan menempati rumah tidak huni juga masih banyak.

Selain rumah Herni, kata Ahmad, rumah Utay, Yanto, Nadi, Acang, Komi dan rumah Apit sama saja kondisi rumahnya tidak layak huni, Namun rumah Herni keadaannya paling parah.

Menurut Ahmad, kalau diitung itung di wilayah RW 11, masih ada belasan rumah kondisi serupa tidak layak huni. “Hal ini semua sudah diajukan, dan kami serahkan sama pemerintah desa,” tuturnya.

Sementara, Staf Desa Bantarkaret Makmur mengaku data base rumah tidak layak huni diwilayahnya terbilang masih tinggi, sebanyak 200 data base Rutilahu yang belum dilakukan perbaikan.

Termasuk Kampung Cimanganten saat ini belum tersentuh perbaikan Rutilahu. “10 kuota untuk rehabilitasi Rutilahu dari Pemda tahun 2020 termasuk 2 unit bangunan rumah dari PT. Antam kita bangun diwilayah kampung lain, dan sekarang pengerjaannya sudah rampung,” terang Makmur.

Karena data base Rutilahu di Bantarkaret masih cukup banyak, hal ini untuk memperingan Pemerintah Desa mudah mudahan dari PT Antam maupun Pemkab Bogor ada penambahan kuota untuk perbaikan Rutilahu.

Karena mendesak beberapa waktu lalu, warga kampung Bantarkaret dan Kampung Babakan berswadaya membangun rumah warga yang kondisinya rusak berat. “Sangat berharap ada penambahan jumlah kuota Rutilahu dari Perusahaan PT Antam Pongkor,” Harap Kepala Desa Bantarkaret, H Hotib.

Hal serupa, dikatakan Kepala Desa Pangkaljaya, Taupik Sumarna bahwa sejak tahun  2019 pihak perusahaan PT Antam membantu untuk perbaikan Rutilahu hanya 4 unit rumah tahun 2020 berkurang menjadi 2 unit rumah. “Semoga menjadi bahan pertimbangan pihak perusahaan untuk adanya penambahan jumlah kuota Rutilahu,” pungkasnya.

 

 

 

 

(Gus/bing)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *