Scroll untuk baca artikel
Bogor RayaHomeNewsPendidikan

Dari Bangku Kuliah ke Ruang Kelas, Nazwa Nabila Belajar Menjadi Guru Lewat Program Mahasiswa Mengajar

×

Dari Bangku Kuliah ke Ruang Kelas, Nazwa Nabila Belajar Menjadi Guru Lewat Program Mahasiswa Mengajar

Sebarkan artikel ini

Kota Bogor, BogorUpdate.com – Menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi di depan kelas. Profesi ini menuntut kemampuan memahami karakter siswa, merancang pembelajaran, mengelola kelas, hingga membangun komunikasi yang baik di lingkungan sekolah.

Pengalaman itulah yang kini dijalani Nazwa Nabila, mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Pakuan, melalui Program Mahasiswa Mengajar Tahun Ajaran 2026/2027 di SMPN 13 Bogor.

Program ini merupakan hasil kerja sama Pemerintah Kota Bogor dengan Universitas Pakuan dan Universitas Ibn Khaldun Bogor, yang pelaksanaannya melibatkan Dinas Pendidikan Kota Bogor. Selain membantu memenuhi kebutuhan tenaga pengajar, program ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman langsung di dunia pendidikan.

Berdasarkan informasi dari akun resmi Pemerintah Kota Bogor, tahap awal program melibatkan 135 mahasiswa dari dua perguruan tinggi. Mereka dijadwalkan mengikuti program selama enam bulan, mulai Juli hingga Desember 2026, dengan penempatan di 22 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 63 Sekolah Dasar (SD) di Kota Bogor.

Peluncuran sekaligus pembekalan program dilaksanakan pada Senin, 20 Juli 2026, di Graha Pakuan Siliwangi, Kampus Universitas Pakuan. Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim.

Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Herry Karnadi, menyampaikan bahwa program ini juga diarahkan untuk membantu mengatasi kekurangan guru yang saat itu mencapai sekitar 650 orang.

Kolaborasi tersebut menjadi upaya untuk menjawab kebutuhan tenaga pengajar sekaligus mempersiapkan calon guru agar lebih memahami tantangan pembelajaran di sekolah.

Menghubungkan Teori dengan Praktik

Bagi Nazwa, penempatan di SMPN 13 Bogor menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu yang selama ini dipelajari di bangku kuliah. Teori tentang model pembelajaran, penyusunan perangkat ajar, asesmen, hingga karakteristik peserta didik kini harus dihadapkan pada kondisi kelas yang sesungguhnya.

Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga mampu menyampaikannya dengan cara yang mudah dipahami. Diskusi, analisis permasalahan, dan aktivitas belajar yang mendorong rasa ingin tahu menjadi bagian dari proses pembelajaran yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Tantangan muncul ketika setiap kelas memiliki karakteristik, tingkat pemahaman, dan respons belajar yang berbeda. Mahasiswa dituntut mampu beradaptasi, mengelola waktu, menjaga keterlibatan siswa, serta memastikan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Nazwa mengaku pengalaman mengajar secara langsung memberinya pemahaman baru tentang tanggung jawab seorang guru.

“Awalnya saya berpikir bahwa tantangan utama dalam magang adalah bagaimana menyampaikan materi dengan baik. Setelah terjun langsung ke kelas, saya menyadari bahwa guru juga harus memahami karakter siswa dan mampu menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi kelas,” ujar Nazwa.

Pengalaman tersebut membuat Nazwa memahami bahwa kemampuan mengajar tidak cukup dibangun melalui penguasaan teori. Keterampilan berkomunikasi, mengambil keputusan selama pembelajaran, serta mengevaluasi proses belajar juga menjadi bagian penting yang harus terus diasah.

Memahami Kehidupan Sekolah Lebih Dekat

Pembelajaran selama program magang tidak berhenti pada kegiatan mengajar di dalam kelas. Mahasiswa juga berkesempatan mengenal budaya sekolah, mengamati pola interaksi antara guru dan siswa, serta memahami berbagai kegiatan yang mendukung pembentukan karakter peserta didik.

Di SMPN 13 Bogor, pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa pendidikan berlangsung melalui berbagai aktivitas, baik dalam pembelajaran formal maupun rutinitas sehari-hari di sekolah.

Kegiatan pembiasaan, komunikasi antara guru dan siswa, serta koordinasi antarwarga sekolah menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang perlu dipahami oleh calon pendidik.

Dari proses tersebut, mahasiswa belajar bahwa peran guru tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi dan pencapaian hasil belajar. Guru juga memiliki tanggung jawab untuk menanamkan kedisiplinan, membangun sikap tanggung jawab, dan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan siswa.

Didampingi Sekolah dan Perguruan Tinggi

Pelaksanaan Program Mahasiswa Mengajar di SMPN 13 Bogor turut didukung oleh pendampingan dari pihak sekolah dan perguruan tinggi.

Kepala SMPN 13 Bogor, Jaenudin, M.Pd., bersama Wakil Kepala Sekolah Bidang Akademik, Ridwan Armansyah, S.Pd., serta Guru Pamong, Teti Suherti, S.Pd., yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, dan Taupik Mochamad Ramadhan, S.Pd., menjadi bagian dari lingkungan pendampingan mahasiswa selama menjalani kegiatan di sekolah.

Sementara itu, dari Universitas Pakuan, mahasiswa mendapatkan bimbingan melalui Dosen Pembimbing Lapangan, M. Taufik Awaludin, M.Pd.

Pendampingan tersebut membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan sekolah, memahami tugas dan tanggung jawab selama magang, serta mengembangkan kompetensi sebagai calon pendidik.

Dukungan dari pihak sekolah dan perguruan tinggi juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar melalui interaksi langsung, memperoleh masukan, dan mengevaluasi kemampuan mengajar yang masih perlu ditingkatkan.

Sinergi antara pemerintah daerah, dinas pendidikan, perguruan tinggi, dan sekolah menjadi bagian penting dalam menghubungkan kebutuhan pendidikan di lapangan dengan proses pembentukan kompetensi calon guru.

Bukan Sekadar Mengajar, tetapi Juga Belajar

Program Mahasiswa Mengajar Tahun Ajaran 2026/2027 menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal profesi guru secara langsung. Selama enam bulan pelaksanaan, pengalaman di sekolah diharapkan dapat membantu mereka mengembangkan kompetensi pedagogis, profesional, sosial, dan kepribadian.

Bagi Nazwa, pengalaman di SMPN 13 Bogor menjadi proses untuk memahami bahwa menjadi guru bukan hanya tentang materi yang disampaikan, tetapi juga tentang cara membangun hubungan dengan siswa, merancang pembelajaran, dan menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan setiap peserta didik.

Dari ruang kuliah ke ruang kelas, proses ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenali tantangan sekaligus tanggung jawab profesi yang akan mereka jalani.

Sebab, menjadi pendidik bukan sekadar hadir untuk mengajar. Lebih dari itu, seorang guru harus terus belajar, beradaptasi, dan memahami perannya dalam mendukung tumbuh kembang generasi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *